YLKI Kritik Keras Pelaksanaan Pekan Raya Jakarta

0
3



Merdeka.com – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritik hal terkait pelaksanaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang menjadi rangkaian Hut ke-492 Jakarta. Salah satu aspek yang menjadi sorotan yakni tingginya tarif biaya masuk yang dipatok pihak manajemen.

Tulus mengatakan, untuk tiket masuk sendiri tarifnya dipatok sebesar Rp 40.000 per orang. Belum lagi tarif parkirnya menerapkan harga flat yakni Rp 30.000 per sekali masuk. Dia menilai tarif sebesar itu terlalu mahal, atau sama saja menjadikan kenaikan tiket masuk secara terselubung.

“Jakarta Fair ini yang menjadi tidak fair (tidak adil) bagi konsumen atau pengunjungnya. Jadi konsumen (pengguna mobil) harus merogoh kocek Rp 70.000,” kata Tulus melalui keterangan resminya, Minggu (23/6).

Tulus mengatakan, area parkir sekitaran PRJ juga tidak nyaman, terbuka, dan berdebu. Dia pun meminta agar manajemen PRJ bisa menakar berapa kapasitas maksimal area PRJ dan area parkir. “Bukan malah sebaliknya, pengunjung terus diterima masuk ke area PRJ sehingga sangat sulit mencari area parkir, dan di dalam area PRJ sangat penuh sesak,” katanya.

Persoalan lain yang dinilai belum memadai yakni keberadaan jumlah toilet dan tempat ibadah atau musala. Sebab, pihak manajemen PRJ tidak memberikan penandaan yang mengarahkan ke lokasi toilet dan musala.

“Jadi pengunjung harus mencari-cari petugas untuk bertanya, di mana keberadaan toilet dan musala. Selain itu terjadi antrean yang panjang di toilet perempuan. Di saat pengunjung membludak seperti itu, seharusnya disiapkan portable toilet,” katanya.

Kemudian terakhir, yang menjadi sorotan pihaknya yakni area PRJ masih ditemukan banyak orang merokok, dan SPG (Sales Promotion Girl) yang menjajakan dan mempromosikan produk rokok, dari beberapa merek. Rokok ditawarkan dengan promosi atau diskon, Rp 20.000 mendapatkan dua bungkus rokok, plus wadah asesorisnya.

Dengan demikian, PRJ yang mengklaim berskala internasional, kalah dengan area pasar tradisional di Kota Bangkok (Pasar Tjacucak) yang terbebas asap rokok. Sebab, tidak ada orang merokok di pasar tersebut, apalagi ada SPG yang jualan rokok.

“Padahal area PRJ sebagai tempat umum adalah area KTR (Kawasan Tanpa Rokok),” pungkasnya. [idr]





Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini