Unair Minta BNPT Beri Informasi yang Utuh

0
22



Surabaya:  Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Mohammad Nasih membantah jika kampusnya disebut telah terpapar radikalisme.  Meski begitu, Nasih meminta BNPT sebagai pihak yang mengeluarkan pernyataan tersebut, agar memberikan informasi dan data yang lebih utuh dan detail jika memang ada indikasi radikalisme di Unair.

Nasih menyatakan mahasiswa Kedokteran di kampusnya tidak sempat mengikuti ataupun mendalami kegiatan berbau radikalisme.  Pernyataan tersebut disampaikan Nasih, menanggapi apa yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), beberapa waktu lalu.

“Terkait kesimpulan dari BNPT, kami berterima kasih karena ini juga sebagai warning. Kami juga akan lebih berterima kasih kalau memang informasi itu bisa lebih detail, ‘by name by address‘, jadi bisa dilakukan pembinaan,” kata Nasih di Surabaya, Senin, 28 Mei 2018.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan BNPT, Hamli dalam sebuah diskusi di Jakarta mengungkapkan, bahwa hampir semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah terpapar radikalisme meski kadarnya berbeda-beda.  Bahkan Hamli menyebutkan tujuh PTN, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikalisme.

Hamli juga menyebutkan, bahwa yang paling rawan disusupi radikalisme di kampus adalah program studi (prodi) eksakta dan kedokteran.  Menanggapi hal ini, Nasih mengatakan, baik Unair dan BNPT sebenarnya memiliki misi yang sama, yaitu menjauhkan Indonesia dari terorisme, dan aksi yang brutal, serta tidak berperikemanusiaan.

“Kalau generalisasi perguruan tinggi karena ada oknum yang radikal saya rasa tidak adil. Masalah personal, tidak secara langsung berkaitan di perguruan tinggi, karena waktu mereka sangat terbatas di kampus,” ucapnya.

Namun, ia juga meminta informasi yang jelas. Sebab jika tidak, Unair tidak bisa melakukan tindakan yang tegas dan akan kontraproduktif.  Nasih menegaskan, pihak kampus hanya mengajarkan mahasiswa sesuai bidang studinya. Selain itu, dalam seminggu, mahasiswa memiliki beban kuliah sebanyak 15 jam atau paling lama lima jam dalam sehari.

Selama itu pula, kegiatan di kampus terstruktur dalam pengawasan Unair. “Apalagi dikatakan FK terlibat terorisme. Menurut saya malah mereka tidak sempat. Mereka banyak materi dan praktik yang harus dituntaskan,” ujar Nasih menegaskan.

Unair juga tidak bisa memantau aktivitas mahasiswa, terutama jika sudah lepas dari jam kuliah. Hal itu karena model perguruan tinggi bukan asrama yang terpantau 24 jam. Untuk itu, aktivitas di luar kampus tidak bisa dipantau dan dikontrol sepenuhnya.

 
(CEU)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini