Tekanan Batin Pencari Suaka | Terkini.com – Nasional Terkini

0
14



Terkini.com – Sembilan tahun bukan waktu singkat untuk sebuah penantian. Terlebih jika dalam medio tersebut tanpa diisi kegiatan berarti, masa penantian bakal menjadi membosankan dan lambat laun, bukan hanya ancaman penyakit, bunuh diri pun kerap menjadi pilihan.

Hal inilah yang dirasakan para imigran pencari suaka di Makassar. Data yang diterima hingga September 2019, sekitar 2 ribu jiwa mendiami 32 house community tersebar di beberapa sudut Kota Makassar.

Mohammad Taher (24), salah seorang imigran asal Afghanistan mengatakan, sudah ada sekitar 10 rekannya bunuh diri. Pilihan nekat itu karena dipicu rasa jenuh yang memuncak hidup di negara transit tanpa kepastian, kapan dikirim ke negara tujuan migrasi agar bisa melanjutkan hidup normal.

Taher dan rekan sesama imigran lainnya dari berbagai negara hingga kini terus mendesak para pemangku kepentingan agar mereka segera dikirim ke Australia, Selandia Baru, Amerika serta Kanada. Salah satu upaya dengan demonstrasi supaya mendapat perhatian Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR).

“Sudah hampir dua bulan ini, tiap hari kami berunjuk rasa. Kami minta semua pihak memperhatikan kami agar segera tinggalkan Indonesia, dikirim ke negara ketiga,” ujar Taher.

Hal senada juga diungkap Ali Sina (24), dia pencari suaka asal Afghanistan. Kurang lebih empat tahun di Makassar berdiam di House Community Mustika 3, Jalan Muhajirin.

“Kami bosan, tidak bisa berbuat banyak. Tidak bisa bekerja, tidak bisa kuliah. Hanya makan dan tidur, tidak boleh bawa kendaraan. Jika pukul 22.00 WITA sudah harus balik ke House Community, seperti anak-anak harus pulang cepat,” kata Ali Sina yang akrab disapa temannya dengan panggilan Alex.

Ali Sina mengaku, perjuangannya tidak ringan untuk tetap selamat dari peperangan di Afghanistan. Perjalanannya hingga ke negara transit Indonesia begitu berat, karena harus meninggalkan orang tua dan empat adik yang saat ini masih bertahan di tengah konflik.

“Rasanya stres kalau ingat keluarga dan di sini juga saya tidak bisa berbuat banyak. Jadi besar harapan untuk segera dikirim ke negara ketiga yang menjadi tujuan akhir. Jadi kami memilih demo di depan kantor UNHCR, di depan kantor Konjen Australia biar kami diperhatikan,” tutur Ali Sina saat ditemui di depan Rudenim Makassar yang berada di Kabupaten Gowa, Rabu (4/9).

Dengan bahasa Indonesia fasih dengan logat Makassar, Ali Sina mengisahkan, dia adalah sulung dari lima bersaudara dari dua orang tua yang punya banyak tanaman (kebun). Sejak enam tahun silam berada di Indonesia, empat tahun di antaranya di Makassar.

Sebenarnya, tutur Ali, dia tingggalkan Afghanistan bukan keinginannya namun dari keluarga. Kedua orang tua minta dia pergi sejauh mungkin untuk menghindari pejuang Taliban.

“Ada kesalahpahaman sampai saya terus dicari oleh orang Taliban. Mereka mau bunuh saya di mana pun saya berada di kampung, jadi saya disuruh ibu bapak untuk pergi,” tuturnya.

Kata Ali, sebenarnya dia juga mau bersama keluarga namun biaya yang dikeluarkan selama perjalanan cukup mahal, satu orang maksimal Rp 100 juta. Akhirnya setelah mencari info dan jaringan, dia menyeberang ke Indonesia melalui jalur udara diurus oleh seseorang.

Awalnya dari Afghanistan ke India, Singapura, Bali lalu Jakarta. Kata Ali Sina, sepertinya saat di Jakarta, diuruskan administrasinya sehingga terdaftar sebagai pencari suaka. Lalu dibawa ke Bogor dan dibelikan tiket ke Riau. Kurang lebih 2 tahun di Riau dan akhirnya dikirim ke Makassar.

Sangat tidak enak, demikian pengakuan Ali karena ke mana-mana jadi perhatian orang.

“Saya akhirnya perbanyak saja aktivitas agar tidak stres dengan kondisi ini. – lain perbanyak olahraga, ikut fitnes agar tidak pusing dan tidak pikir begitu-begituan (hasrat seksual),” ungkapnya blak-blakan seraya menambahkan, biaya bulanan dari UNHCR sebesar Rp 1.250.000 yang disisihkan untuk itu semua.

Ditambahkan, bagi yang tidak tahan dengan hasratnya, kata Ali Sina, ada beberapa rekannya yang memilih diam-diam menikah dengan orang Indonesia.

Satu lagi imigran pencari suaka, Abdul (26) asal Myanmar yang berada di Indonesia sejak awal tahun 2011. Masuk melaui jalur laut bersama seorang kakak dan teman-temannya dalam satu perahu sebanyak 129 orang dan terdampar di Banda Aceh.

“Kondisi kami saat itu sangat sangat lemah, sakit-sakitan semuanya karena 18 hari tidak makan, karena persediaan makanan di atas kapal habis,” ujarnya.

Untuk bisa dapat satu kapal kayu, tuturnya, urunan uang dengan orang Myanmar lain dan berhasil tinggalkan Myanmar yang kini juga sedang berkonflik.

“Sembilan tahun di Indonesia termasuk di Makassar, rasanya begitu menderita karena PBB sangat diskriminatif. Saya belum dapat keadilan. Yang saya tahu, jika seseorang pengungsi terdampar di Indonesia masa tinggal paling lama 3 tahun dan dikirim ke negara ketiga. Saat ini sudah 9 tahun di Indonesia,” ujarnya.

Abdul mengaku, telah menikah dengan perempuan Makassar sejak tahun 2015 lalu. Dan telah punya dua orang anak.

“Hidupi keluarga itu pakai dana bulanan dari UNHCR yang Rp 1.250.000 perbulan. Sangat sulit saya jalani hidup ini. Istri dan dua anak tetap tinggal di rumah orang tuanya karena setiap pukul 22.00 malam, saya harus kembali ke House Community,” pungkas Abdul. [cob]





Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini