Tekan Dampak Rokok, Indonesia Perlu Ratifikasi FCT

0
9



Jakarta: Rokok dianggap sebagai ancaman dalam perwujudan Nawacita kelima yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. Diperlukan tindakan parsial dan tegas pemerintah dalam melakukan pengawasan terhadap konsumsi rokok yaitu dengan meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Peneliti Komnas HAM Elvan Suri Choriah mengatakan sudah seharusnya pemerintah melindungi hak hidup sehat masyarakat luas. Menurut dia sejak tahun 2011 hingga kini Indonesia masih belum masuk negara-negara yang mengaplikasikan FCTC.



“Indonesia belum menjadi pihak dalam FCTC. Dengan mengusulkan draft ratifikasi FCTC yang sampai saat ini belum menjadi prioritas pemerintah kita,” kata Elvan saat mengisi diskusi di Auditorium KH Ahmad Dahlan PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 30 Mei 2018.

Elvan mengatakan pemerintah tidak perlu sungkan dalam melakukan ratifikasi FCTC. Ia bilang negara-negara lain khususnya negara besar sudah melakukan ratifikasi yang sama terhadap perjanjian internasional tersebut.

Selain itu pemerintah juga bisa berpegang pada keutamaan negara atas perlindungan kesehatan masyarakat akibat dampak buruk tembakau. Elvan menyebutkan negara memiliki tanggung jawab dan kewenangan menandatangani kerja sama internasional. 

“FCTC sudah diratifikasi 178 negara dan hanya negara kecil yang tidak meratifikasi itu termasuk Indonesia. Bagaimana Komnas HAM menilai Jokowi implementasi janji-janji nya?,” Kata Elvan

Elvan memaklumi bahwasanya pemerintah hingga tidak punya aturan komprehensif terhadap pengaturan tembakau termasuk pada perlindungannya terhadap perokok pasif. Oleh karenanya ratifikasi FCTC bisa diadopsi sebagai jalan keluar.

Data organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat rokok dipastikan menjadi penyebab dari delapan penyakit berbahaya, enam di antaranya berkorelasi positif dengan tembakau. Rokok juga diklaim menjadi penyebab kematian yang cukup besar di Indonesia.

“Indonesia berada di peringkat ketiga konsumsi rokok setelah Tiongkok dan India. 200-300 ribu kematian perokok  pertahun,” jelas Elvan.

Adapun Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) adalah perjanjian internasional yang ditetapkan untuk menekan dampak dari persebaran rokok dan tembakau. FCTC diklaim sebagai alat yang ampuh untuk mengurangi konsekuensi global yang merusak dari produk tembakau pada kesehatan, kehidupan, dan ekonomi.

(SCI)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini