Studi: Situs Penyebar Hoaks Raup Untung Triliunan Rupiah dari Iklan – Nasional Terkini

0
15



Terkini.com – Menjelang pemilu presiden AS ke-59 yang akan digelar 3 November 2020, perhatian pada situs penyebar berita bohong dan disinformasi semakin tinggi. Keberadaan situs-situs tersebut ternyata menjadi bisnis yang menguntungkan.

Studi terbaru yang dilansir Global Disinformation Index (GDI) bertajuk ‘Cutting the Funding of Disinformation: The Ad-Tech Solution’ menuliskan sekurangnya keuntungan iklan yang masuk ke situs penyebar berita hoaks itu menembus USD245 juta atau sekitar Rp3,4 triliun. Pemilik situs mendapat keuntungan dari pengiklan yang tidak sadar bahwa iklan mereka tidak sesuai dengan konten yang ada.

GDI melihat kerawanan situs-situs penyebar berita bohong dan disinformasi. Dalam studinya, GDI mendefinisikan disinformasi sebagai informasi tidak akurat yang disebarkan dengan tujuan atau maksud jahat. Studi dilakukan pada 20.000 situs penyebar berita hoaks dengan melihat lalu lintas situs, informasi pengunjung, jenis-jenis iklan yang ada, dan keuntungan yang didapatkan melalui iklan per pengunjung.

Studi juga menemukan kompleksitas iklan daring membuat perusahaan sering tidak tahu dengan tepat di mana iklan-iklan produk mereka berakhir.

“Saya rasa jika diberi pilihan mereka tidak akan menyubsidi konten-konten seperti ini, tetapi saat ini mereka tidak memiliki pilihan,” kata Danny Rogers, Ketua Divisi Teknologi GDI dalam acara Reliable Sources seperti dilansir CNN, Minggu (18/8).

New York Times melansir contoh iklan dari perusahaan asuransi Allstate yang tayang pada sebuah artikel di situs Nowtheendbegins.com. Konten itu menceritakan teori konspirasi untuk penembakan sekolah Sandy Hook tahun 2012. Setelah menyadari itu, Allstate memutus kerja sama dengan berbagai situs yang terklasifikasikan sebagai disinformasi oleh GDI.

Berbagai usaha untuk membantu perusahaan mengetahui di mana iklan-iklan mereka tayang, sudah dilakukan. Sebuah grup bernama Sleeping Giants yang dibentuk setelah pemilu AS tahun 2016, telah membantu dengan membuat akun Twitter dan Facebook yang memberitahu perusahaan ketika iklan mereka tayang di situs penyebar hoaks.

Google dan Facebook turun tangan. Mereka mengimplementasikan sistem indikasi kepercayaan yang bisa mengidentifikasikan artikel dari situs berita terpercaya. Facebook telah menghapus ratusan akun berisi disinformasi. Begitu pula dengan Instagram.

Google juga sudah memperbaiki algoritma rekomendasi dalam Youtube untuk memastikan pengguna selalu mendapatkan hasil pencarian berita dari media terpercaya. Tetap saja, kuantitas informasi yang diunggah dalam internet serta perkembangan teknologi membuat disinformasi terlihat benar.

Pengiklan perlu berperan aktif memonitor dimana iklan mereka muncul. “Hingga saat ini, pengiklan melihat media sebagai sarana untuk menjangkau manusia tetapi sekarang mereka perlu melihatnya dengan tanggung jawab juga. Akan menjadi buruk bagi masyarakat jika mereka membiayai kebencian dan disinformasi.” ucap Matt Rivitz, Founder Sleeping Giants.

Reporter Magang: Joshua Michael [noe]





Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini