Siswa Asal Mindanao Kini Pandai Berbahasa Aceh

0
20




Pidie: Sudah hampir dua tahun, 22 anak-anak Mindanao, Filipina menimba ilmu di Sekolah Sukma Bangsa (SSB) Pidie. Mereka merupakan penerima bantuan pendidikan dari Yayasan Sukma Bangsa.

Pemberian bantuan pendidikan untuk mereka merupakan salah satu bagian dari proses negosiasi pembebasan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang dilakukan Yayasan Sukma dengan kelompok Abu Sayyaf pada Mei 2016 silam.



Ke-22 anak itu berasal dari provinsi Cotabato, Zamboanga, Basilan, Sulu, dan Tawi-tawi. Mereka mendapatkan beasiswa pendidikan secara penuh selama empat tahun, dari tingkat SMP hingga SMA.

Awalnya, mereka sempat mengalami gegar budaya lantaran berbeda bahasa, dan kultur. Lambat laun mereka beradaptasi. Kini, mayoritas dari mereka sudah pandai berbahasa Indonesia bahkan bahasa Aceh.

“Selain wajah yang enggak berbeda dengan orang-orang kita (Aceh), logat dan bahasanya juga (hampir) sama seperti kita. Mereka bisa bahasa Indonesia dan Acehnya dari teman-teman asrama, mereka bersosialisasi dengan anak-anak lokal yang tinggal di asrama,” ujar Direktur SSB Pidie, Marthunis Bukhari ketika berbincang dengan Medcom.id di Gampoeng Pineueng, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh.

Marthunis menambahkan, proses kegiatan belajar mengajar pada 22 siswa-siswi asal Mindanao itu dikhususkan pada satu kelas. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar mereka, meski mereka juga mendapat pelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas.

Namun demikian, aku Marthunis, mendidik anak-anak Mindanao jadi pekerjaan berat bagi tenaga didik yang ada di SSB Pidie. Semenjak menuntut ilmu di SSB Pidie pada akhir Agustus 2016, proses belajar mengajar mereka sempat dicampur dengan siswa Indonesia.

Sayangnya, kondisi demikian tak berlangsung lama.  “Mereka mungkin merasa nyaman berada dengan teman-temannya sendiri, sehingga bergaul dengan teman Indonesia juga jarang,” ucapnya.

Setelah menyatukan ke-22 anak-anak Mindanao itu dalam satu kelas khusus, SSB Pidie kemudian mencari cara lain agar mereka mudah beradaptasi dengan murid lokal lainnya. Beberapa cara di antaranya yakni dengan mencampur mereka dengan siswa Indonesia di asrama.

“Mereka semua tinggal di asrama. Kemudian dalam praktik pembelajaran di sekolahnya, mereka kita libatkan juga dengan siswa-siswi lokal,” jelas Marthunis.

Salah satu siswa Mindanao, Ibni Khalid mengakui, mereka kesulitan beradaptasi saat awal menuntut ilmu di Serambi Mekkah itu.   Tak hanya dengan siswa Indonesia, sesama mereka pun terkadang sulit untuk berbaur.

“Meskipun kami sama-sama dari Mindanao, Filipina, tapi budaya dan bahasa kami juga beda-beda. Saya dari Sulu, ada juga yang dari Basilan dan Cotabato,” jelas Ibni.

Tak sampai di situ, antarsiswa Mindanao pun berbeda usia satu dengan yang lainnya. Usia mereka berada pada rentang 15 hingga 20 tahun.

Namun tak butuh waktu lama bagi Ibni dan kawan-kawan untuk beradaptasi. Bagi Ibni, menimba ilmu di SSB menyenangkan, karena punya banyak teman untuk berbagi kisah.

“Sekolah di sini lebih baik karena ada peraturan 3 No, yakni no Smoking, no Bullying, dan no cheating. Di sana juga ada (peraturan 3 No), tetapi kalau ada siswa yang enggak mematuhi peraturan, mereka akan (langsung) dikeluarkan,” ungkap Ibni.

 

(CEU)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini