Rindu Srimulat, Hari Prast Siap Luncurkan Komik

0
14


Dunia hiburan di tanah air kembali berduka dengan meninggalnya Gogon, personil kelompok lawak “Srimulat” pekan lalu dalam usia 58 tahun. Kepergiannya itu hanya berselang satu bulan dari peluncuran buku “Srimulatism: Selamatkan Indonesia dengan Tawa.”

Buku komik Srimulatism yang dibuat Hari Prast bersama Thrio Haryanto. (Courtesy: Hari Prast)

Buku komik Srimulatism yang dibuat Hari Prast bersama Thrio Haryanto. (Courtesy: Hari Prast)

Buku “Srimulatism : Selamatkan Indonesia dengan Tawa” karya Thrio Haryanto dan Hari Prast yang diluncurkan April lalu kurang lebih berisi catatan perjalanan dan beberapa komik kelompok lawak yang sangat terkenal pada era akhir 80an, “Srimulat.” Diwawancarai melalui telpon, komikus Hari Prast mengatakan terinspirasi membuat komik dan kemudian mengajak Thrio menulis buku karena begitu kuatnya setiap karakter yang ada dalam kelompok “Srimulat.”

“Saya suka mengisi komik “Srimulatism” di Twitter, yang menampilkan sosok-sosok yang kuat. Misalnya saja Gogon yang cukup ditampilkan dengan jambul dan kumis ala Hitler. Ada Asmuni yang memerankan sosok majikan yang selalu berpakaian beskap rapi dengan kumis yang semakin menunjukkan kewibawaanya. Ada Tarzan yang memerankan tokoh orang yang punya kekuasaan, entah menjadi Pak RT, polisi atau pejabat militer, atau sekedar juragan kaya. Ada juga tokoh Pak Bendot yang selalu menjadi bulan-bulanan pemain lain. Ketika saya membuat komiknya, tanggapan masyarakat sangat luar biasa. Mereka mengatakan jadi teringat cerita masa lalu ketika kelompok “Srimulat” biasa tampil televisi,” ungkap Hari Prast.

Bersama Thrio Haryanto, bulan April lalu diluncurkanlah buku: “Srimulatism: Selamatkan Indonesia dengan Tawa.”

Mantan wartawan dan komedian Maman Suherman, yang ikut mendukung peluncuran buku itu, mengatakan kepada VOA, “Adalah kelalaian besar jika menulis sejarah dunia komedi Indonesia tidak memasukkan sejarah kelompok lawak Srimulat, yang telah melahirkan ratusan seniman komedi, memberi warna khas pada genre komedi tradisional khususnya, dunia komedi Indonesia umumnya.”

Mengenang Gogon, Hari Prast Dedikasikan “Gogon ala Deadpool”

“Baru saja buku itu kami luncurkan Apri lalu. Jadi saya kaget sekali ketika mengetahui salah seorang tokohnya, Gogon, meninggal dunia tadi (15/5),” ujar Hari Prast.

“Gogon ala Deadpool” didedikasikan bagi pelawak Srimulat, Gogon, yang meninggal dunia pekan lalu. (Courtesy: Hari Prast)

“Gogon ala Deadpool” didedikasikan bagi pelawak Srimulat, Gogon, yang meninggal dunia pekan lalu. (Courtesy: Hari Prast)

Gogon alias Margono, yang kelahiran Surakarta 31 Desember 1959, menghembuskan nafas terakhir di Lampung pada usia 58 tahun. Gogon seakan menyusul teman-temannya yang telah lebih dulu kembali, antara lain Gepeng, Asmuni, Bendot, Basuki, Timbul, Mamiek Prakoso, Djuduk Djuariah, Eko, dan Bambang Gentolet.

Hari Prast, yang ketika mendengar kabar kematian Gogon sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Semarang, segera tergoda membuat satu komik khusus untuk sosok yang selalu tampil polos apa adanya itu.

“Saya kok jadi ingin membuat komik Gogon dengan kepolosannya, tetapi bermakna dalam,” tambah Hari Prast.

Dalam beberapa menit, jadilah sosok “Gogon ala Deadpool,” lengkap dengan jambul dan kumis ala Hitler yang menjadi ciri khasnya, membawa ransel yang dilengkapi dua pedang, sambil membawa kamus. Dalam sketsa itu, ada sosok Polo – salah satu tokoh penting lain dalam “Srimulat” – yang menanyakan, “Mau kemana Gon?” Dijawab, “Mau mbunuh orang!” Polo membalas, “Kok bawa nyamus, eh kamus?” Gogon menjawab, “Lho apa kamu nggak tahu, kata-kata itu lebih tajam daripada pedang lo.”

“Saya harap pencinta “Srimulat” dan komik memahami makna di balik apa yang disampaikan Gogon dalam komik itu. Bagaimana sebenarnya ilmu lebih bermakna. Eh gak tahunya banyak yang share di Instastory dan akhirnya di media,” kata Hari Prast lagi.

Komik Jadi Sarana Kritik Membangun

Salah satu pentolan biro iklan “Berakar Komunikasi” ini, beberapa tahun belakangan kerap menjadikan komik sebagai sarana menuangkan keprihatinan atau kebahagiaan, tak jarang dengan cara satir, tentunya dengan menggunakan tokoh-tokoh “Srimulat.” Misalnya ketika sedang ramai isu pribumi dan non-pribumi, Hari Prast membuat komik Asmuni yang sedang berbincang dengan Gogon. “Kita ini pribumi lho Gon,” ujar Asmuni. Dijawab Gogon dengan “Pria Berkumis Minimalis tho.’’

Komik yang didedikasikan bagi pelawak Srimulat Gogon, yang meninggal dunia pekan lalu. (Courtesy: Hari Prast)

Komik yang didedikasikan bagi pelawak Srimulat Gogon, yang meninggal dunia pekan lalu. (Courtesy: Hari Prast)

Atau ketika musim Pilkada, muncul komik Mamiek dan Nunung dengan kalimat satir. ‘’Akhir-akhir ini kalau kita sedang indehoi, kamu kok dingin enggak bersuara tho Nung?’’ tanya Mamiek. “Apa kamu lupa Mas, sekarang khan musim Pilkada. Ada uang, ada suara,’’ jawab Nunung.

“Saya rindu pada “Srimulat” dan melihat besarnya perhatian orang pada komik yang saya buat, saya yakin mereka juga rindu. Saya pernah membayangkan dengan Mas Thrio, andaikan ada yang berkenan mementaskan kembali “Srimulat.” Jadi anak-anak sekarang ikut merasakan romantika kita dulu. Sempat memang TV mengangkat lagi, tapi kok kurang begitu sukses. Film dan kontesk juga gak sukses. Mungkin karena nyawa “Srimulat” itu yaa di atas panggung. Saya sendiri ingin menghidupkan kembali dengan apa yang saya bisa, yaitu lewat komik,’’ lanjut Hari Prast.

Komik ini pun sukses. Bisa jadi karena meskipun senantiasa mengaitkan karakter komik dengan situasi saat ini, atau bahkan menampilkan sosok pahlawan atau tokoh dari luar negeri, tetap ada unsur lokal yang ditonjolkan.

Hari Prast menambahkan, “Saya berharap bisa mengkompilasi semua dan meluncurkan komik sendiri. Saya ingin judulnya “Srimulat, Never Wassalam.” Tapi belum tetap, masih ingin mencari yang tepat.”

Demikian Hari Prast menutup perbincangan dengan VOA. [em]



Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini