Right Issue, Emiten BULL Terbitkan 2,51 Miliar Saham…

0
5



Jakarta: PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) berencana menjalankan aksi korporasi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2,51 miliar saham baru. Dana yang dibidik oleh perusahaan pada aksi right issue sebesar Rp351,85 miliar.

Direktur Utama BULL Kevin Wong mengatakan setiap pemegang dua saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada 21 Juni 2018 pukul 16.00 WIB mempunyai satu HMETD. Di mana satu HMETD berhak untuk membeli satu saham baru yang ditawarkan dengan Harga pelaksanaan Rp140 per saham.



Pada setiap tiga saham hasil pelaksanaan HMETD tersebut juga melekat satu Waran Seri III. Setiap pemegang satu waran berhak untuk membeli satu saham perseroan dengan harga pelaksanaan Rp175 per saham.

“Aksi right issue ini, telah mendapatkan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” kata Kevin, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis, 31 Mei 2018.

Dana dari hasil right issue rencananya akan gunakan untuk modal kerja, meliputi pembayaran kepada pemasok dalam rangka kegiatan operasional kapal, seperti pemeliharaan kapal, beban umum dan administrasi.

Selain itu, dana hasil right issue juga akan digunakan untuk pembelian kapal secara langsung maupun pembelian kapal secara tidak langsung yang akan dilakukan oleh perusahaan anak yang akan ditunjuk kemudian, dalam bentuk setoran modal. Pembelian kapal baru oleh perseroan dilakukan dalam rangka diversifikasi dan ekspansi usaha.

Dia menyebutkan, selain aktif di kapal tanker minyak, FPSO/FSO dan gas sebagai bisnis utama yang terus perseroan kembangkan, BULL juga ingin membidik bisnis kapal curah kering, seperti kapal pengangkutan batubara serta kapal tunda dan tongkang guna menyambut Beyond Cabotage, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 82 Tahun 2017 tentang Ketentuan Penggunaan Angkutan Laut Dan Asuransi Nasional Untuk Ekspor dan Impor Barang Tertentu. Peraturan tersebut mengatur tentang penggunaan kapal nasional untuk ekspor batu bara dan CPO.

“Indonesia merupakan negara pengekspor batu bara terbesar di dunia, mencapai 364 juta ton pada 2017. Dengan harga batu bara yang terus meningkat seiring permintaan di sejumlah negara seperti Vietnam, Tiongkok, dan India, Perseroan melihat prospek besar di depan mata yang belum dikembangkan,” ucap Kevin Wong.

Permintaan dalam negeri juga tidak kalah menggiurkan, lanjut dia, sama seperti kebutuhan kapal tanker yang terus meningkat, geografis Indonesia sebagai negara kepulauan mengharuskan penggunaan kapal sebagai alat transportasi. “Batu bara di Indonesia umumnya dihasilkan di pulau Kalimantan dan Sumatera, sedangkan pengguna batu bara umumnya berada di pulau Jawa. Kebutuhan dalam negeri sendiri mencapai 97 juta ton pada 2017,” tuturnya.

Sekadar informasi, tanggal efektif pernyataan right issue dari OJK jatuh pada 30 Mei 2018. Tanggal terakhir persagangan saham dengan HMETD di Pasar Reguler dan Negosiasi jatuh pada 7 Juni 2018, sedangkan Pasar Tunai jatuh pada 21 Juni 2018.

Kemudian, tanggal mulai perdagangan saham tanpa HMETD di pasar reguler dan negosiasi pada 8 Juni 2018 dan pasar tunai pada 22 Juni 2018. Tanggal terakhir pencatatan untuk HMETD (recording date) jatuh pada 21 Juni 2018, distribusi HMETD jatuh pada 22 Juni 2018.

“Tanggal pencatatan right issue di bursa jatuh pada 25 Juni 2018. Periode perdagangan 25-29 Juni 2018. Periode distribusi saham dan waran seri III  hasil pelaksanaan HMETD jatuh pada 27 Juni – 3 Juli 2018. Tanggal terakhir pembayaran pemesanan saham tambahan jatuh pada 3 Juli 2018. Dan Tanggal Penjatahan jatuh pada 4 Juli 2018,” papar dia.

(AHL)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini