Presiden Jokowi Sampaikan Duka Cita Atas Tewasnya 5 Anggota Polisi Mako Brimob

0
3



Menanggapi peristiwa rusuh dan penyanderaan di Rutan Salemba cabang Mako Brimob Kelapa Dua Depok Jawa Barat, Presiden Joko Widodo tegaskan sampai kapanpun Indonesia tidak akan memberi ruang kepada ancaman terorisme yang dapat mengganggu keamanan negara.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan duka cita atas meninggalnya lima anggota polisi saat menangani kerusuhan dan kasus penyanderaan di Rutan Salemba cabang Markas korps Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua Depok Jawa Barat. Berbicara di Istana kepresidenan Bogor Jawa Barat Kamis (10/5) Jokowi berharap, para keluarga korban diberi ketabahan dan keikhlasan.

“Atas nama rakyat, bangsa dan negara, saya menyampaikan rasa duka mendalam atas gugurnya lima anggota Kepolisian dalam melaksanakan tugas dari negara dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi duka ini,” ujar Presiden Joko Widodo.

Terkait dengan upaya pengendalian situasi dan pemulihan keamanan di Mako Brimob, Jokowi mengatakan, ia telah telah mendapatkan laporan langsung dari pejabat terkait seperti Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wakapolri, Panglima TNI dan Kepala BIN. Jokowi mengapresiasi kerja keras dari aparat keamanan dalam penanganan peristiwa tersebut.

“Alhamdulillah, narapidana terorisme semuanya sudah menyerahkan diri kepada aparat keamanan. Dan pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas nama rakyat dan negara kepada seluruh aparat keamanan yang terlibat dalam menyelesaikan peristiwa ini,” lanjut Presiden Joko Widodo.

Lebih lanjut Presiden Jokowi tegaskan, sampai kapanpun Indonesia tidak akan memberi ruang kepada ancaman terorisme yang dapat mengganggu keamanan negara.

“Perlu saya tegaskan bahwa negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut dan tidak akan pernah memberikan ruang sedikitpun pada terorisme dan juga upaya-upaya yang mengganggu keamanan negara,” ujar Presiden Joko Widodo.

Jokowi mengaku telah memerintahkan kepada Wakapolri untuk memberikan kenaikan pangkat luar biasa kepada prajurit yang telah menjadi korban keganasan teroris.

Kerusuhan yang terjadi di Kompleks Rutan Mako Brimob sejak Selasa (8/5), menewaskan lima anggota Brimob satu orang narapidana teroris. Selain membuat rusuh, ratusan napi teroris melakukan penyanderaan terhadap sembilan anggota kepolisian. Lima dari sembilan anggota polisi itu tewas di tangan para napi teroris. Sementara itu, empat orang lainnya menderita luka-luka. Satu orang napi teroris yakni Benny Syamsu Tresno alias Abu Ibrohim tewas setelah berusaha merebut senjata dari aparat polisi. Ratusan napi teroris itu juga sempat merampas 30 pucuk senjata organik dan bahan peledak sitaan milik polisi.

Drama penyanderaan berakhir pada Kamis (10/5) pagi setelah tim penanggulangan aksi teroris yang dipimpin oleh Wakapolri Komjen Syafruddin memberi peringatan kepada napi teroris agar menyerah. Adapun kelima anggota kepolisian yang tewas itu ialah Inspektur Satu Luar Biasa Anumerta Yudi Raspuji, Ajun Inspektur Dua Luar Biasa Anumerta Deni Seadi, Brigadir Luar Biasa Anumerta Sandi Setyo Nugroho, Brigadir Satu Luar Biasa Anumerta Sukron Fadli, Brigadir Satu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamingkas.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan, apa yang dilakukan oleh napi teroris terhadap para sandera sudah diluar batas kemanusiaan.

“Pelaku kerusuhan yang kita hadapi saat ini adalah penindak para terorisme dalam tahanan. Yang seharusnya mereka itu sadar akan perbuatannya. Insaf akan apa yang dilakukan selama ini. tetapi justru mereka melakukan kekejaman. Dengan merampas senjata, menyandera, menyiksa, bahkan membunuh ya para petugas dengan cara-cara yang kejam keji diluar batas kemanusiaan,” ujar Menkopolhukam Wiranto.

Komandan Korps Brimob Irjen Rudy Sufahriadi mengatakan, para napi teroris yang melakukan kerusuhan di Rutan Cabang Salemba kompleks Mako Brimob sempat menguasai bom dan senjata. Para napi teroris itu juga sempat merakit bom untuk digunakan sebagai ranjau.

“Patut diduga dan mereka sudah sampaikan mereka menyimpan bom-bom. Bom-bom itu didapat adalah dari barang bukti yang disita dan belum sempat digudangkan oleh penyidik densus. Itu mereka ambil dan rebut lagi. Itulah yang dijadikan bahan bom dan sudah kita ledakan semua,” ujar Komandan Korps Brimob, Irjen Rudy Sufahriadi. [aw/al]



Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini