Perkuat Modal, MDKA Siap Right Issue 933 Juta Saham…

0
6



Jakarta: Pemegang saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menyetujui usulan manajemen mengenai penambahan modal melalui penerbitan saham baru (rights issue) dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Persetujuan tersebut tertuang dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).



Melalui skema HMETD, MDKA akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 933,33 juta lembar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. MDKA telah menetapkan harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp2.250 dengan target dana yang diraih sebanyak-banyaknya USD150 juta.

“Hasil HMETD akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi bisnis perusahaan di masa depan,” tutur Wakil Direktur Utama sekaligus CEO MDKA Colin Francis Moorhead dalam keterangan persnya, Selasa, 22 Mei 2018.

MDKA berencana meningkatkan kapasitas produksi dari rata-rata empat juta ton menjadi enam juta ton per tahun setelah proyek pengembangan Oksida (OXP) rampung yang ditarget pada akhir 2018.

RUPSLB juga menyepakati rencana mengubah kegiatan usaha dengan memperluas cakupan usaha MDKA dibidang perencanaan dan pelaksanaan di bidang jasa pertambangan serta bidang kegiatan pengolahan data.

“Kami percaya bahwa penguatan bisnis MDKA akan memberikan nilai tambah bagi para stakeholdersnya, termasuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial serta keberlanjutan hidup dan keseimbangan ekologi di wilayah kerja kami. Kami berharap Perusahaan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, namun juga bagi masyarakat,” ujar Colin.

Sepanjang 2017 harga emas dunia menguat dipengaruhi nilai dolar AS yang terkait erat dengan kondisi geopolitik serta kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia.

Pada kuartal I-2018 kenaikan harga emas terus berlanjut sejalan dengan pelemahan nilai dolar AS secara global terhadap mata uang dunia lainnya sebesar 9,3 persen.

Para analis logam mulia memperkirakan tren kenaikan permintaan ini akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan, didorong kenaikan permintaan dari sektor perhiasan, serta berkembangnya tren e-commerce secara global yang sangat bergantung pada penerapan dan pengembangan teknologi.

Pasokan emas juga dinilai akan menurun seiring kebijakan lingkungan yang baru diterapkan di Tiongkok. Adapun Tiongkok merupakan produsen emas dunia dengan produksi sebanyak 13,9 persen dari total produksi dunia di 2017.

(AHL)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini