Pengusaha Rumah Makan di Solo Masih Banyak Gunakan Elpiji Bersubsidi

0
33



Merdeka.com – PT Pertamina (Persero) menyesalkan masih banyaknya pengusaha rumah makan yang menggunakan elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram. Dari beberapa kali sidak (inspeksi mendadak), sejumlah rumah makan ternama nekat menggunakan elpiji yang seharusnya digunakan masyarakat kurang mampu itu.

Seperti di Rumah Makan Selat Solo Tenda Biru, Jl KH Samanhudi, Laweyan, tim gabungan Dinas Perdagangan Kota Solo, Satpol PP dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) mendapati 22 tabung elpiji subsidi yang masih digunakan.

Sebagai tindak lanjut, Pertamina memberikan kelonggaran dengan fasilitas penukaran berupa dua tabung elpiji melon kosong dengan elpiji bright gas ukuran tabung 5,5 kg.

“Dari 22 tabung gas itu kami ganti dengan 11 tabung bright gas 5,5 kg. Pada kegiatan ini kami sekaligus mengimbau pemilik usaha agar beralih menggunakan gas nonsubsidi,” ujar Sales Executive LPG Pertamina MOR IV wilayah Soloraya Adeka Sangtraga, Kamis (27/6).

Senin lalu PT Pertamina juga menemukan kondisi serupa di rumah makan Soto Kirana, Soto Triwindu dan sejumlah rumah makan lain. Di Solo, sejumlah rumah makan tersebut mempunyai pelanggan cukup banyak. Bahkan bisa dikategorikan rumah makan milik pengusaha kelas menengah.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Elpiji 3 kg, usaha yang tergolong menengah ke atas tidak lagi diperbolehkan menggunakan elpiji subsidi tersebut.

“Oleh karena itu, pada kegiatan sidak ini kami sekaligus memberikan sosialisasi kepada pemilik usaha yang ketahuan masih menggunakan elpiji subsidi,” katanya.

Kepala Pengembangan Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Solo, Kristiana mengemukakan, pemerintah mendukung langkah penindakan yang dilakukan Pertamina. Pihaknya hanya memberikan pembinaan, sedangkan penindakan tetap ranahnya Pertamina.

“Kami terus berupaya terus melakukan sosialisasi kepada para pedagang agar kesadaran mereka tumbuh dengan menggunakan elpiji nonsubsidi. Kalau tidak ada sosialisasi kan kasihan pedagang, masa tiba-tiba kena sidak begitu,” jelasnya.

Pemilik rumah makan Tenda Biru, Joko Susanto mengaku lebih memilih menggunakan elpiji ukuran tabung 3 kg karena lebih murah. “Lebih murah, selain itu mendapatkannya juga lebih mudah dan tidak berat saat dibawa,” pungkas dia. [cob]





Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini