Muhadjir Akui Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah Belum 100 Persen

0
4
JAKARTA, TERKINI.COM-  Baru 65 persen dari total 217.586 sekolah di Indonesia yang sudah menerapkan progran Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).  Namun, jumlah itupun masih harus dievaluasi lagi kualitas penyelenggaraannya.
“Kalau formalnya sudah di atas 65 persen, tetapi kan seperti apa pemahaman dan kualitas penyelenggaraannya harus dievaluasi,” jelas Muhadjir di Jakarta, Sabtu, 2 Juni 2018.
Saat ini sudah ada sekolah yang menjadi best practices dan sekolah yang masuk kategori pembinaan.  Seperti diketahui, ada 5 karakter utama yang menjadi target dari Penguatan Pendidikan Karakter, yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, kejujuran dan gotong royong.  Menurut Muhadjir, di samping anak didorong beragama secara baik, takwa  dan memiliki iman yang baik, tapi juga perlu ditanamkan toleransi, menghargai perbedaan, saling memahami antar agama yang berbeda.
“Kalau ada sekolah yang mayoritas siswanya satu agama maka perlu juga sekali-kali diajak kunjungan ke sekolah yang mayoritas agamanya berbeda, agar mereka bisa saling berhubungan dan memahami,” terang Muhadjir.
Pelaksanaan PPK di sekolah diakui Muhadjir belum 100 persen, salah satunya karena terkendala masih kurangnya tenaga ahli PPK.  “Expert-nya belum satu kata karena secara teoritik dan akademik masih banyak pertentangan tentang character education itu,” jelas Muhadjir.
Selain itu, PPK juga terbentur keterbatasan anggaran, ditambah belum sepenuhnya pemerintah daerah memberikan dukungan optimal pada PPK. “Tapi intinya, kuncinya di PPK,” tegas Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.
Membangun Keteladanan
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Sekolah Global Sevila Pulomas, Budi Setiono mengatakan penguatan pendidikan karakter di sekolah tidak bisa dilakukan hanya melalui pemberian materi secara teori.  Namun harus dipraktikkan dan siswa membutuhkan keteladanan dari lingkungan sekitarnya.
“Ini kenapa PPK itu harus digarap mulai dari atas, yakni dari guru dan orangtua, baru anak akan mencontoh. Karena PPK tidak bisa dikuliahkan, tidak bisa teoritis,” tegas Budi.
Di Global Sevilla, sekolah yang menjadi sekolah percontohan dalam tolerensi dan keberagaman di Jakarta Timur ini sudah lama menerapkan PPK.  Dimulai sejak pertama kali melakukan rekrutmen guru, setiap guru harus melalui sistem seleksi yang panjang.
Sebab sekolah ingin mengetahui, dan menggali, sejauh mana pandangan calon guru dalam beragama dan menyikapi keberagaman.  “Karena siswa di sekolah kami sangat beragam, beda agama, beda suku, ada juga anak-anak dari Warga Negara Asing yang sekolah di sini. Meski mayoritasnya adalah muslim, tapi jumlah siswa dari agama lain juga tidak sedikit,” jelasnya.
Budi mengatakan, Global Sevilla membangun komunitas secara komprehensif untuk memperkuat pendidikan karakter, di mana pendidikan karakter yang utama justru ditanamkan kepada orangtua siswa dan guru.  “Pendidikan orang tua sangat penting, kami melakukannya melalui seminar, juga melalui komite sekolah.  Jadi komite sekolah di Global Sevilla tidak hanya mengurus penggalangan dana,” ungkapnya.(CEU/MM)

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini