Pemerintah Disarankan Bikin Kajian Berkala Terkait Sumber Polusi di Setiap Wilayah

0
9



Merdeka.com – Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace, Bondan Andriyanu berharap pemerintah daerah maupun nasional turut menanggulangi bencana polusi udara yang terjadi di Jakarta berdasarkan kajian ilmiah. Sebab dia menilai, selama ini pemerintah tidak mempunyai data komprehensif sumbar penyumbang polusi udara di Jakarta.

“Artinya kalau kita bicara penanggulangan sebenarnya harus berdasarkan basis data. Karena kalau bicara udara nih ada datanya nih, namanya emission inventory,” kata Bondan saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Sabtu (6/7).

Emission inventory atau kerap disebut inventarisasi emisi merupakan pencatatan atau pendataan jumlah pencemaran udara dari sumber-sumber yang ada dalam suatu wilayah. Adapun sumber pencemaran udara yang harus diinventarisasi adalah semua sumber pencemar.

Menurut Bondan, inventarisasi emisi perlu dilakukan setiap tahun guna memetakan dalam sektor apa saja sumbar-sumber polutan tersebut.

Dia mengatakan, setelah diketahui sumbernya, maka dibuatlah kebijakan mengacu pada data tersebut. Jika hal ini dilakukan, kata Bondan, pemerintah bisa efisien menanggulangi permasalahan udara di Jakarta.

“Emission inventory ini mesti dilakukan berkala setiap tahun minimal. Kita ke tahun nanti sebenarnya transformasi berapa persen sih, industri berapa persen. Kemudian rencana apa yang diambil untuk mengurangi masing-masing sumber polutan itu,” katanya.

Bukan hanya itu, menurut dia, inventarisasi emisi tiap tahun juga berguna untuk mengevaluasi capaian kebijakan pemerintah dalam mengendalikan polutan di udara. Karena selama ini tidak ada basis data untuk membandingkan apakah upaya pemerintah untuk menanggulangi bencana udara tersebut tepat sasaran atau tidak.

“Tahun depan dibikin lagi kajiannya, kemudian diukur keberhasilannya apa gitu. Iya dievaluasi,” kata Bondan.

Sebelumnya, asap kendaraan, debu bangunan, kerap menjadi salah satu penyebab buruknya kualitas udara. Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia versi penyedia peta polusi udara Airvisual.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Sabtu (5/7), selama beberapa hari, Ibu Kota berada di peringkat pertama kota dengan kualitas udara terburuk. Nilai air quality index (AQI) di Ibu Kota bahkan sempat mencapai 240, dalam kategori sangat tidak sehat.

Nilai AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, seperti pm 2.5, pm 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Namun, stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) milik pemerintah yang tersebar di Ibu Kota menyebutkan, nilai indeks standart polusi udara (ISPU) di Jakarta berada dalam kategori sedang atau tidak berbahaya bagi kesehatan.

Pengukuran indeks kualitas udara ini menggunakan lima jenis parameter yang dipantau selama 24 jam. Asap kendaraan bermotor disebut sebagai penyebab utama polusi udara.

Greenpeace menanggapi perbedaan angka ini dengan mengungkapkan, indikator pengukur kualitas udara Jakarta sudah lama tidak diperbarui.

Menikmati udara segar tentu menjadi keinginan semua warga. Mengingat polusi udara bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Reporter: Yopi Makdori
Sumber: Liputan6.com [gil]





Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini