Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal Melalui Kegiatan Pameran Sejarah dan Bencana Alam – Nasional Terkini

0
10


Selasa pagi, 8 Oktober 2019 suasana di auditorium Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya dan Museum Sulawesi Tengah dipadati pengunjung yang didominasi oleh pelajar yang datang bersama guru maupun orang tua mereka untuk menyaksikan pameran khusus bertema sejarah alam dan kebencanaan Sulawesi Tengah. Hari itu merupakan hari terakhir pelaksanaan pameran sejak dibuka pada 3 Oktober 2019. Anak-anak Sekolah Dasar tampak duduk bersila di lantai sambil menulis di buku catatan. Di bagian lain ruangan itu, pelajar SMP didampingi guru mereka, menonton film dokumenter terkait bencana alam di Sulawesi Tengah.

Iksam, kurator Museum Sulawesi Tengah kepada Terkini.com menjelaskan pascabencana alam gempa bumi, tsunami dan likuefaksi pada 28 September 2018 silam, ada kecenderungan meningkatnya minat masyarakat setempat untuk mengetahui lebih jauh sejarah kebencanaan di masa lalu. Sejak pameran kebencanaan itu dibuka pada 3 Oktober, sedikitnya sudah 10 ribu pengunjung yang mencatatkan nama dan tandatangan mereka di buku tamu. Angka itu diakui jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah 100 kunjungan pada hari biasa.

“Pertanyaan mendasar dari setiap pengunjung itu apakah wilayah yang mereka tinggali itu aman atau tidak. Tentu dalam hal ini museum sebagai lembaga edukasi harus mengambil peran penting dalam bidang ini, penyebaran informasi yang berkaitan dengan mitigasi bencana,” jelas Iksam.

Bagian dari 200 koleksi keramik Museum Sulawesi Tengah yang telah selesai direstorasi dari kerusakan akibat gempa bumi 28 September 2018 silam, 8 Oktober 2019. (Foto: Terkini.com/Yoanes Litha)

Pameran itu juga dimaksudkan untuk mengkampanyekan mitigasi bencana alam berbasis kearifan lokal. Iksam, seorang arkeolog, mengatakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat di masa lalu melalui Toponimi atau penamaan suatu tempat yang dikaitkan dengan sebuah peristiwa bencana alam dengan menggunakan bahasa lokal mereka. Penamaan itu sekaligus menjadi pengetahuan untuk mengingatkan agar tempat itu tidak lagi ditempati dan mereka berpindah ke tempat lain yang lebih aman.

“Sekaitan dalam fakta-fakta sejarah bahwa wilayah-wilayah yang pada masa lalu dianggap tidak aman itu mereka tinggalkan. Mereka pindah ke wilayah yang aman. Justru tempat yang mereka tinggalkan inilah yang kemudian dibangun di era tahun 80-an di lembah Palu ini sehingga banyak korban likuefaksi, gempa bumi maupun tsunami.”

Lelulur penduduk asli Sulawesi Tengah menyebut linu/lingu yang berarti gempa bumi, bomba talu untuk Tsunami, Nalodo/Halodo berarti Likuefaksi.

Pengunjung pameran menyaksikan pemutaran film dokumenter yang berisi penjelasan mengenai fenomena gempa bumi, tsunami dan likuefaksi, 8 Oktober 2019. (Foto: Terkini.com/Yoanes Litha)

Pengunjung pameran menyaksikan pemutaran film dokumenter yang berisi penjelasan mengenai fenomena gempa bumi, tsunami dan likuefaksi, 8 Oktober 2019. (Foto: Terkini.com/Yoanes Litha)

Rita Wati seorang warga kota Palu yang mengaku baru pertama kali mendatangi museum Sulawesi Tengah menyatakan pentingnya untuk melihat pameran itu karena memuat informasi yang menarik mengenai gempa bumi, tsunami dan likuefaksi yang di antaranya dikemas dalam bentuk parade foto dan video dokumenter. Ia mengetahui kegiatan pameran itu dari media sosial.

“Kegiatan seperti ini seharusnya lebih sering begitu, kayaknya setahun baru ada di museum ini,” harap Rita Wati.

Pameran itu juga menampilkan koleksi keramik Museum Sulawesi Tengah yang telah selesai direstorasi dengan bantuan UNESCO dan Museum Nasional Indonesia. Guncangan kuat gempa pada 28 September 2018 silam, menyebabkan kerusakan pada 200 koleksi keramik yang di antaranya berasal dari abad ke tujuh.

Kearifan Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana

Saiful Taslim Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Sigi menilai bencana alam 2018 silam telah membangkitkan kesadaran bersama akan pentingnya upaya pembangunan ke depan dilakukan dengan berbasis pada pengurangan risiko bencana.

Di tingkat masyarakat di wilayah pedesaan umumnya telah memiliki kearifan lokal yang dapat mendukung upaya-upaya mitigasi bencana. Hal itu dapat dilihat dari aturan-aturan adat yang mengatur pemanfaatan tata ruang.

Sekelompok pelajar yang menyaksikan foto-foto dokumentasi dampak bencana alam yang dipajang dalam kegiatan pameran khusus sejarah alam dan kebencanaan oleh Museum Sulawesi Tengah, 8 Oktober 2019. (Foto: Terkini.com/Yoanes Litha)

Sekelompok pelajar yang menyaksikan foto-foto dokumentasi dampak bencana alam yang dipajang dalam kegiatan pameran khusus sejarah alam dan kebencanaan oleh Museum Sulawesi Tengah, 8 Oktober 2019. (Foto: Terkini.com/Yoanes Litha)

“Dalam mitigasi bencana itu kita lihat misalnya kearifan masyarakat setempat terkait dalam tata ruang wilayah ya. Dalam tata ruang itu mereka sudah mengalokasikan mana wilayah yang berdampak agak berisiko untuk pembangunan rumah atau untuk perkebunan. Inikan upaya untuk memitigasi jangan sampai misalnya perencanaan-perencanaan itu berada di wilayah yang gampang sekali terjadi longsoran.”

Saiful menjelaskan sebagai forum yang melibatkan masyarakat dan pemerintah Kabupaten Sigi, PRB Sigi akan mengedepankan pendekatan kearifan lokal berbasis komunitas dalam upaya memfasilitasi kegiatan-kegiatan mitigasi bencana di wilayah itu. [yl/lt]



Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini