Meraup Berkah di Banyuwangi Ethno Carnival 2019 – Nasional Terkini

0
26



Terkini.com – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang digelar rutin tiap tahun sejak 2011, tidak hanya menjadi event untuk memikat kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Indonesia.

Lebih dari itu, ada banyak tetesan ekonomi yang tidak hanya dirasakan industri besar seperti hotel, restoran hingga maskapai penerbangan.

Namun masyarakat juga merasakannya, mulai dari pemilik homestay, pedagang kaki lima, pembuat kostum, perias, juru las besi, jasa antar transportasi hingga juru parkir.

Trisya Dewi Sartika (32) salah satu designer dan pembuat kostum karnival. Mulanya dia hanya membuat kostum BEC, namun setelah karya-karyanya terpilih sebagai the best kostum, dia akhirnya terus kebanjiran pesanan untuk event-event karnival.

Tidak hanya pesanan dari Banyuwangi sendiri, tapi juga luar kota, pulau bahkan luar negeri.

“Pertama, kedua, dan tahun kemarin dapat the best kostum. Awalnya nggagarapin kostumnya om Subari (talent BEC yang merupakan tetangga dan keluarga). Karena dapat the best kostum akhirnya banyak yang pesan ke sini,” kata Trisya saat ditemui di kediamannya, Kelurahan Kampung Melayu, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (24/7).

Pada event BEC yang berlangsung pada Sabtu (27/7), karya Trisya yang dibeli-putus oleh para talent berjumlah sekitar 12 kostum.

Sementara untuk pagelaran Jember Fashion Carnival (JFC) untuk Agustus 2019 nanti, Trisya mendapatkan pesanan 4 kostum.

“Tahun lalu juga garap 12, kadang 10 paling sedikit 6 kostum. Kalau JFC Jember Fashion Carnival yang pesan 3-4 kostum,” katanya.

Jember merupakan kota pertama yang menggagas event carnival, sementara Banyuwangi dan Solo mengadopsinya, namun dengan konsep yang berbeda.

“JFC tema Nusantara dan luar negeri, kalau Solo batik, Banyuwangi tema kebudayaan lokal,” tambahnya.

Masing-masing kostum carnival, katanya, memiliki nilai rupiah yang cukup besar, mulai jutaan hingga belasan juta rupiah. Semua tergantung pesanan, terutama keragaman bahan sangat menentukan harga pembuatan kostum.

“Kostum untuk orang dewasa rata rata Rp 7,5 juta ke atas. Anak-anak rata rata Rp 3-4 juta. Paling mahal Rp 12 juta, yang jadi the best kostum kemarin,” ujarnya.

Trisya membutuhkan waktu desain kostum – 1-2 minggu. Meski demikian, ia tidak memberi tarif khusus pada karyanya ini, sebab yang menentukan mahal dan tidaknya karya tetap dari bahan-bahan yang digunakan.

Desain-desain yang dikerjakan selalu menyesuaikan tema, dan bakal melampaui proses penjurian sebanyak 3 kali secara bertahap oleh panitia BEC.

“Selama desain, saya komunikasi terus sama pemesan. Saya tidak mematok tarif untuk desain, bisa dari saya atau langsung pemesan,” katanya.

Ibu dua anak ini tinggal di sebuah gang perkampungan di Kelurahan Kampung Melayu. Bersama suaminya, Sutik Widodo (32). Rumahnya dengan ruang tembok – 2×3 meter, ada juga ruangan bagain dalam sekitar 6×3 meter jadi ruang kerja mereka.

Termasuk halaman rumahnya di gang yang hanya selebar 2×5 meter, jadi tempat Sutik untuk mengukir bahan spons, menata kerangka besi hingga mengecat bagian kostum.

Sutik mengatakan, bahan-bahan yang digunakan untuk kostum karnival – lain spons matras, lempengan kuningan, permata dari manik-manik, kerangka besi yang sudah di las, dan aneka cat.

Dari bahan-bahan yang dibeli, keduanya hanya mengambil keuntungan bersih Rp 500-750 ribu, diluar upah borongan empat pekerjanya.

“Yang paling mahal bahan lempengan kuningan sama manik-maniknya ini. Ya Alhamdulillah bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Selain kostum fashion carnival full-set, Trisya dan Sutik juga kebanjiran pesanan dari luar kota dan pulau untuk event-event karnaval. Baginya, carnaval dan karnival merupakan dua hal yang berbeda.

“Kalau karnival selalu ke atas dan kesamping, banyak kreasi, itu kenapa selalu ada sayap juga. Kalau karnaval seperti Agustus an, desainnya sesuai real-nya,” ujar Sutik.

Bahkan, Kedubes Amerika dan Cina juga pernah pesan karya suami-istri ini.

“Pernah dapat buatkan untuk Kedubes Amerika dan Cina. Besok ada pesanan 20 set di Nganjuk.Tiap bulan pasti ada orderan, yang besar 2-3.Yang kecil-kecil hanya mahkota, pundak, itu yang banyak,” kata Trisya menambahkan.

Keuntungan lain, juga didapatkan bila ada masyarakat yang menyewa buah tangan Trisya dan Sutik. Sewa kostum harian bisa dikisaran Rp 1,5-2 juta, termasuk asuransi bila ada kerusakan.

“Paling banyak pas di Bulan Agustus, dan event-event Banyuwangi. Sebelum bikin kostum karnival saya dulu tukang sablon, sudah lama saya tinggalkan,” kata Sutik.

Selain itu, pihak yang juga merasakan dampak ekonomi dengan adanya BEC, yakni juru perias atau juru make-up, Dena Angle Resita (25) yang juga tinggal di Kelurahan Melayu, Banyuwangi.

Bila sebelumnya Dena hanya merias pasangan pengantin dan talent karnaval peringatan Agustus-an, kali ini dia banyak mendapat permintaan untuk merias talent BEC, dari kalangan masyarakat biasa sampai publik figur.

“Tahun lalu makeup 10 talent. Tahun ini, BEC satu, artis dua. Karena anak ikut (menjadi talent BEC (jadi gak nerima banyak,” ujarnya.

“Kebantu seneng banget dibandingkan dulu, karena kalau dulu hanya Agustusan, dan prewedding, kemanten, kalau sekarang ada BBF, BEC, Green recycle, dan lain lain,” tambahnya.

Tiap muka yang dirias, Dena bisa mengantongi Rp 300-350- ribu dengan durasi 30 menit. Sementara untuk event karnival per muka butuh waktu hanya 10-15 menit dengan biaya 100-150 ribu.

“Satu muka bisa setengah jam, manten malah dua jam..kalau karnaval 10-15 menit jadi, karena orang banyak,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Muhammad Yanuar Bramuda, dihubungi secara terpisah mengatakan, penginapan mulai dari homstay hingga hotel tercatat sudah penuh dan baru berangsur longgar pada Selasa (30/7) nanti.

Selama sepekan ini, beragam event berlangsung di Banyuwangi, mulai dari Banyuwangi Ijen Green Run, Festival Proses Kopi, Festival Smart Kampung hingga puncaknya Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang masuk menjadi Top 10 calendar of event oleh Kementerian Pariwisata.

“Sampai tanggal 30 Juli sudah habis, sampai satu mingguan okupansi hotel terjaga,” kata Bramuda.

Tahun ini BEC yang merupakan Top 10 Event Pariwisata Nasional, bakal mengangkat tema Kingdom of Blambangan. Tema besar King of Blambangan ini lalu dipecah menjadi 10 sub tema yang dituangkan dalam 120 busana etnik.

“Kita mengangkat cerita rakyat, angkat budaya lokal, dan anak anak Banyuwangi bisa membuat desain baju yang akhirnya mendunia,” ujarnya.

Lantas, bagaimana Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjaga kualitas desain-desain kostum BEC. Selain melakukan pemantauan dan edukasi, pihaknya juga memberikan subsidi sebesar Rp 3 juta untuk masing-masing talent.

“Kami ingin jaga kualitas, kami beri subsidi, karena masuk 10 top calendar of event. Sekarang dikerjakan anak anak sendiri dan didampingi designer. Kalau dulu masih diserahkan langsung ke designer,” katanya.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya yang turut hadir menyaksikan BEC menilai tingkat kreativitas dalam event ini tinggi dan memiliki dampak ekonomi.

“Sekali lagi selamat karena telah masuk top di calendar of event, ini boleh menginspirasi, kreatif value-nya tinggi, ekonomi valuenya tinggi,” kata Arief Yahya usai menyaksikan BEC, Sabtu (27/7).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, festival BEC yang mengangkat tema sejarah Blambangan diharapkan bisa menjadi nilai edukasi sejarah yang menyenangkan. Selain itu, even BEC juga dinilai berhasil membangkitkan keceriaan dan nilai ekonomis masyarakat. Khusus dalam event BEC, Anas mengizinkan semua pedagang kaki lima jualan di atas trotoar.

“Biasanya PKL harus tertib rapi, kali ini boleh di atas trotoar. Jadi ini pestanya rakyat. Mereka bisa jual, asal bersih, PKL memenuhi trotoar, yang jualan tidak hanya Banyuwangi, tapi juga dari luar daerah,” kata Anas. [hrs]





Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini