Mengubah Arah Bisnis ke Digital

0
6

Jakarta: Era digital sudah terjadi sekarang ini dan pelaku bisnis tanpa terkecuali perlu mengubah skema bisnis dari yang tradisional menuju digital dalam rangka mempertahankan atau  meningkatkan daya saing. Hal ini dinilai perlu sejalan dengan terus menguatnya pengguna internet di Tanah Air dan melonjaknya tren belanja online di masyarakat.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet di 2017 telah mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,68 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah tersebut menunjukkan kenaikan sebanyak 10,56 juta jiwa dibandingkan dengan hasil survei yang dilakukan pada 2016.
Sedangkan komposisi pengguna internet berdasarkan jenis kelamin terdiri dari perempuan sebanyak 48,57 persen dan laki-laki sebanyak 51,43 persen. Untuk komposisi berdasarkan usia, angka terbesar ditunjukkan oleh masyarakat berumur 19-34 yakni 49,52 persen. Namun untuk penetrasi terbesar berada pada umur 13-18 yakni sebesar 75,50 persen.
Angka penetrasi pengguna internet kedua terbesar berdasarkan tingkat ekonomi yakni berturut-turut berada pada masyarakat menengah bagian bawah sebesar 74,62 persen, dan masyarakat mengengah bagian atas sebesar 16,02 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa manfaat dari internet tidak hanya dapat diakses oleh kalangan atas saja.
Sementara itu, hasil kajian EY bekerja sama dengan Kemenko Perekonomian dalam studi roadmap e-commerce Indonesia disebutkan bahwa bisnis e-commerce di Indonesia diperkirakan tumbuh 10 kali lipat di 2020. Pada 2020 nanti, nilai perdagangan daring akan mencapai USD130 miliar atau Rp1.800 triliun. Hal ini tentu perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.
Direktur Utama PT Adira Dinamika Multifinance Tbk atau Adira Finance Hafid Hadeli mengatakan digitalisasi merupakan hal yang pasti di era teknologi sekarang ini. Skema bisnis pun harus diubah dari yang tradisional ke digital guna mengikuti kebutuhan nasabah seraya meningkatkan kemudahan yang lebih baik lagi.
“Soal digital sudah pasti larinya ke sana. Sesuatu yang memang harus dilakukan termasuk di Adira Finance,” kata Hafid, menjawab pertanyaan Medcom.id, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Digital Jadi Alat Mempermudah Nasabah
Di Adira Finance, lanjut Hafid, digital merupakan alat untuk mempermudah nasabah sekaligus penunjang laju bisnis agar lebih maksimal. Hafid menekankan digital hanya sebuah alat dan yang menjadi dasar perhatian Adira Finance adalah nasabah. Dalam hal ini, tambah Hafid, pihaknya berupaya menjembatani kebutuhan nasabah melalui digital.
“Digital menjadi alat kita untuk melakukan koneksi dengan konsumen. Bagaimana kita mengirimkan produk dan bagaimana proses yang dibutuhkan konsumen. Di situ butuh digitalisasi dan ujung-ujungnya convenience serta digital supaya hidup konsmen lebih mudah agar terfasilitasi,” tukasnya.
Hafid menambahkan pihaknya tidak hanya menerapkan sistem digital untuk mempermudah layanan kepada para nasabah. Pasalnya, secara perlahan dirinya telah mengarahkan ‘kapal besar’ bernama Adira Finance mengubah alur bisnis di internal perusahaan dari tradisional ke digital dalam artian termasuk mulai mengurangi kertas dan tatap muka.
Dulu, dirinya menjelaskan, ketika seorang nasabah mendatangi sebuah diler motor atau mobil dan hendak membeli salah satu unit maka diler tersebut akan melakukan pengisian secara tradisional terkait data-data calon nasabah dan nantinya diberikan kepada Adira Finance untuk diteliti apakah disetujui pembiayaannya atau tidak.
Pelaporan data-data dari diler ke Adira Finance dilakukan tradisional dan tatap muka. Prosesnya pun terbilang panjang dan berhari-hari. Namun, sejak dua tahun lalu, pihaknya melakukan transformasi alur bekerja di internal dan perlahan mulai menggunakan digital. Sistem ini yang sekarang membuat proses panjang tersebut bisa dipangkas hanya dalam hitungan jam.
“Ini tidak kedengaran di wartawan. Tapi hubungan kami dengan diler sekarang sudah berubah. Kalau dulu ada mekanisme mengisi kertas dari diler untuk menyetujui nasabah dan menyampaikan kepada Adira Finance maka sekarang sudah menggunakan digital. Kalau dulu porses bisa 4-5 hari maka sekarang proses hanya hitungan jam. Satu hari selesai,” tuturnya.
Adapun salah satu bentuk nyata Adira Finance mengoptimalkan digital adalah diluncurkannya Akses Adira Finance. Aplikasi Akses Adira Finance adalah bentuk wadah komunikasi digital antara Adira Finance dengan konsumen.
Ada keunikan fitur yang dimiliki aplikasi tersebut seperti notifikasi dan reminder jatuh tempo serta overdue cicilan yakni konsumen mendapatkan reminder untuk pembayaran angsuran di H-7, H-3, dan pada saat hari H jatuh tempo.
Berikutnya, informasi rinci kontrak konsumen termasuk nomor perjanjian kontrak, jumlah angsuran, dan objek pembiayaan. Selain itu, terdapat fitur simulasi kredit untuk calon konsumen, serta jejak angsuran yang sudah dibayarkan dan informasi denda bila ada.
Menurut Hafid, peralihan sistem bekerja dan optimalisasi digital itu yang membuat kinerja Adira Finance tetap positif hingga sekarang ini. Hingga kuartal I-2018, Adira Finance mencatat laba bersih sebesar Rp443 miliar atau meningkat sebanyak 35,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp328 miliar.
Kenaikan laba bersih ini terutama didorong oleh pertumbuhan pada pendapatan bunga. Pendapatan bunga tumbuh karena adanya pertumbuhan penyaluran pembiayaan dan penurunan biaya pendanaan yang didukung oleh lingkungan suku bunga yang menurun. Secara keseluruhan, total pendapatan tercatat tumbuh 13,3 persen menjadi Rp2,4 triliun pada kuartal I-2018.
Indonesia Siap untuk Economic Digital Society
Di sisi lain, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut  Indonesia siap untuk economic digital society dan diproyeksikan pada 2020 Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi digital di ASEAN. Perluasan Akses dan pemanfaatan aplikasi digital diyakini dapat lebih memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ekonomi Indonesia.
“Tentunya dalam bentuk tumbuhnya perusahaan bidang ekonomi digital. Sepanjang 2017-2020 diprediksikan ada 32,3 juta pengguna baru internet di Indonesia dan Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna media sosial terbesar sepanjang 2016-2017,” kata Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong.
Lebih lanjut, Tom, biasa ia disapa menambahkan, Indonesia telah berkontribusi sekitar empat persen dari total penjualan e-commerce dunia. Diharapkan kondisi ini bisa terus meningkat dari waktu ke waktu dan ujungnya memberi efek positif terhadap perekonomian nasional.
“Sepanjang 2017 perusahaan start-up Indonesia menerima investasi sebesar USD4,93 miliar,” pungkasnya.
Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini