Mendag: Reformasi WTO penting untuk penguatan sistem multilateral

0
8


WTO sebagai badan yang kita dirikan bersama tidak berjalan dengan baik dan bisa disfungsi. Ini merupakan ‘warning’ dan persoalan bersama

Tsukuba, Jepang (ANTARA) – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengingatkan pentingnya reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk memperkuat kerja sama multilateral yang mulai ditinggalkan sejumlah negara dalam melaksanakan komitmen perdagangan.

“WTO sebagai badan yang kita dirikan bersama tidak berjalan dengan baik dan bisa disfungsi. Ini merupakan ‘warning’ dan persoalan bersama,” kata Enggar saat ditemui di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri G20 mengenai Perdagangan dan Ekonomi Digital di Tsukuba, Jepang, Minggu.

Enggar mengatakan tingginya tensi perang dagang antara AS dengan China saat ini membuat kepercayaan di antara negara-negara G20 atas pelaksanaan sistem multilateral menjadi sangat rendah.

Untuk itu, penguatan peran WTO melalui reformasi harus dilakukan agar harapan terhadap keberadaan lembaga ini tidak makin mengecil dan membahayakan kondisi perdagangan global.

“Ini persoalan besar bagi dunia dan G20, maka diminta betul peranan kita untuk mengatasi ini. Tidak boleh ada diskriminatif,” katanya.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo menambahkan peran WTO atas negosiasi serta pengawasan sudah tidak berjalan dengan baik.

Peran lainnya yaitu penyelesaian sengketa juga terancam tidak berfungsi karena kosongnya anggota “appellate body” di WTO yang bertugas mengatasi persoalan sengketa.

“Anggota ‘appelate body’ itu harus ditetapkan segera, kalau tidak ada sampai Desember, maka fungsi sistem penyelesaian sengketa akan berhenti,” kata Iman.

Padahal saat ini persoalan perdagangan cenderung diselesaikan secara unilateral atau sepihak karena adanya defisit kepercayaan di negara-negara atas pelaksanaan kerja sama.

“Masalahnya sekarang ada ‘trust deficit’, atau defisit kepercayaan, di antara anggota. Kalau hanya membawa kepentingan masing-masing maka reformasi ini tidak berjalan,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, maka pembenahan tubuh WTO menjadi penting, agar situasi perdagangan global tidak makin melemah.

“Kita harus membenahi WTO, kalau WTO tidak sempurna, bukan berarti WTO-nya ditinggal atau semua diblok, kita harus duduk bicara untuk perbaikan WTO,” ujarnya.

Isu reformasi dalam tubuh WTO merupakan salah satu agenda yang diusung oleh Indonesia dalam forum ini selain pembukaan akses data ekonomi digital dengan persyaratan tertentu.

Pertemuan Tingkat Menteri G20 mengenai Perdagangan dan Ekonomi Digital berlangsung pada 8-9 Juni 2019 dan membahas perkembangan ekonomi terkini.

Beberapa di antaranya adalah pertukaran data ekonomi digital, penurunan tensi perang dagang, pengurangan subsidi untuk perdagangan yang lebih adil, reformasi peran WTO dan pentingnya kerja sama multilateral.

 

Pasar tradisional di Jatim jadi contoh pasar sehat

Pewarta: Satyagraha
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019





Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini