Memulihkan Populasi, Memperkaya Genetik Banteng Jawa

0
10


Januari 10, 2018

Taman Nasional Baluran menginisiasi program pembiakan banteng Jawa semialami in situ. Di tengah berbagai tantangan dan hambatan, program yang telah berusia lima tahun itu tetap diharapkan dapat menyelamatkan populasi banteng Jawa dari kepunahan.

Di dalam kandang berpagar besi, Barja mengendus-endus tanah, mencari sisa rerumputan. Dia terus menempel pada induknya, Ussy. Ketika seorang penjaga alias keeper, Agus Susanto membawa makanan, Barja mendekat dengan jinak, lalu langsung melumat dedaunan yang disodorkan. “Petugas lain masih ambil rumput untuk jatah makan sore hari,” kata Agus, 30 tahun.

Barja–kepanjangan dari Baluran Jaya, adalah banteng jantan yang lahir 23 Mei 2017 dari induk Doni dan Ussy. Nama Barja disematkan oleh Menteri Kordinator Perekonomian Darmin Nasution saat mengunjungi Baluran, 11 Agustus 2017.

Sebelum Barja, Doni dan Ussy melahirkan banteng jantan pada 2014 yang diberi nama Tekad. Dua anak banteng juga lahir dari Doni tapi dengan betina lain, Tina. Anak mereka, Nina lahir pada 2013, dan Patih pada 2016. Doni bersama Tina, Tekad, dan Patih menempati kandang seluas 0,8 hektare (ha). Sementara itu, Ussy bersama Nina dan Barja menempati kandang seluas 0,25 ha.

Banteng-banteng tersebut merupakan bagian dari program pembiakan semi alami di Suaka Satwa Banteng TN Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Program yang berlangsung sejak 2012 ini bertujuan meningkatkan populasi banteng Jawa di Baluran. “Pada 1970 jumlah banteng di TN Baluran tercatat sekitar 150-200 ekor. Namun, 33 tahun kemudian, tepatnya pada 2003, jumlah mereka menurun menjadi 70-100 ekor. Penurunan terus terjadi hingga hanya tersisa 19 ekor pada 2011,” kata Divisi Kesehatan, Pakan, dan Administrasi Suaka Satwa Banteng TN Baluran, Sutadi, 14 November 2017.

Merosotnya populasi banteng, merupakan akumulasi dari berbagai sebab. Mulai perburuan liar hingga menurunnya kualitas habitat. International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2008 bahkan menetapkan banteng jawa sebagai endangered species atau spesies terancam punah.

Menindaklanjuti penetapan dari IUCN, Kementerian Kehutanan kemudian menargetkan pertumbuhan populasi banteng jawa (Bos javanicus javanicus) hingga sebesar 10% per tahun. Kewajiban tersebut salah satunya dibebankan kepada TN Baluran karena banteng menjadi satwa endemik di taman nasional seluas 25 ribu hektare itu.

Nyaris Gagal Kawin

Banteng Baluran secara genetik lebih unggul jika dibandingkan dengan satwa serupa di taman nasional lainnya. Keunggulan genetik itu ditunjukkan dari bobot tubuh banteng dewasa yang mencapai 900 kg dan tinggi 170 sentimeter. Ini berbeda dengan banteng di kawasan lain yang beratnya hanya sekitar 600-800 kilogram dengan tinggi rata-rata 160 cm.

“Sejak mendapat kewajiban itu, kami menginisiasi program pembiakan semi alami di habitat alami atau in situ,” kata Sutadi.

Untuk menjalankan program ini, TN Baluran bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa Timur  pada 2010. Taman Safari dipilih karena pengelolaan satwa mereka dinilai lebih baik dan memiliki banyak koleksi banteng hasil penyelamatan (rescue) dari alam.

Setelah program tersebut disetujui Kementerian Kehutanan, sejumlah staf Baluran pada 2011 melakukan studi banding program pembiakan ke Taman Safari Indonesia II Prigen. Di sana, keeper dan pengelola program belajar merawat, mengenali tingkah laku, dan kesehatan banteng. Hingga pada Juli 2012, Taman Safari Prigen mulai mengirim dua banteng betina  berusia dua tahun, yakni Ussy dan Tina.

Tina dan Ussy yang semula hidup di Taman Safari Prigen pun harus menyesuaikan diri dengan habitat sabana di Baluran yang kering saat musim kemarau. Berbeda dengan Taman Safari Prigen yang umumnya sejuk, berada di ketinggian antara 800-1500 mdpl di lereng Gunung Arjuna. Untuk membantu adaptasi Tina dan Ussy, petugas tetap menyediakan pakan, sumber air, dan memantau kesehatan secara berkala.

Kepala Balai Taman Nasional Baluran, Bambang Sukendro, menjelaskan kedua banteng tersebut awalnya diskenariokan bisa kawin secara alamiah dengan pejantan dari Baluran. Pintu kandang pun dirancang agar bisa terbuka dan tertutup secara otomatis untuk memudahkan banteng jantan masuk. Namun, skenario ini gagal.

Selama dua bulan di kandang, tak satu pun pejantan yang menghampiri Tina dan Ussy. Padahal, saat itu keduanya telah tiga kali menujukkan tanda-tanda berahi. Kemaluan mereka memerah dan berlendir. Mereka pun lebih aktif bergerak dan sering bersuara.

Pihak TN Baluran akhirnya mendatangkan banteng jantan bernama Doni dari Taman Safari Prigen, sekitar September 2012. Sebab, Tina dan Ussy dikhawatirkan mengalami kemandulan apabila hasrat kawin mereka kembali tidak tersalurkan. Upaya tersebut ternyata berhasil. Doni, yang saat itu berusia tiga tahun akhirnya membuahi Ussy dan Tina. Sebanyak empat anak pun lahir dalam 5 tahun.

Mencari Pejantan Lokal

Sebanyak tiga banteng yang menjalani program pembiakan (breeding) merupakan induk pilihan dari sekitar 20 banteng koleksi Taman Safari Prigen. Ketiga banteng tersebut sebelumnya telah diseleksi berdasarkan kualitas genetik, kesehatan dan performa serta berasal dari indukan berbeda.

Indukan ketiga banteng itu merupakan hasil penyelamatan dari sejumlah tempat di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada tahun 2005. Tina dan Ussy, lahir dari induk betina yang dievakuasi dari Perkebunan Kalitelepak, Glenmore, Banyuwangi. Namun, ia diduga berasal dari TN Meru Betiri. Ada pun pejantannya ialah hasil evakuasi di Kecamatan Kabat, Banyuwangi dan diduga berasal dari TN Baluran atau TN Alas Purwo.

Sementara itu, induk betina dari Doni diselamatkan dari Perkebunan Kalitelepak. Sedangkan, induk jantan hasil penyelamatan dari Kecamatan Siliragung, Banyuwangi.  “Kami kemudian melakukan breeding banteng tapi secara ex situ atau di luar habitat aslinya,” kata Urator Satwa Taman Safari Indonesia II Prigen, Ivan Chandra, saat dihubungi pada Senin, 22 November 2017.

Balai TN Baluran terus berupaya mendapatkan dua pejantan dari alam liar. Satu pejantan untuk program pembiakan in situ atau di habitat alam. Seekornya lagi akan dikirim dan dikawinkan dengan banteng betina di Taman Safari Prigen. Pertukaran induk ini sekaligus membuat genetis banteng di Baluran maupun di Taman Safari Prigen menjadi lebih beragam.

Namun, mereka akhirnya memutuskan menukar Doni dengan pejantan lain karena sulit mendapatkan banteng jantan dari habitat alam. Doni dalam waktu dekat akan dikirim ke Taman Safari Indonesia di Cisarua Bogor, Jawa Barat. Seekor pejantan dari Bali Safari Marine Park akan menggantikannya di TN Baluran. Pertukaran kedua pejantan ini untuk menghindari perkawinan sedarah (inbreeding).

“Pertukaran dan pemilihan induk jantan telah melalui rekomendasi Global Species Management Plan,” jelas Ivan.

Mendapatkan banteng jantan liar memang bukan perkara gampang, baik teknis penangkapan maupun perizinannya. Penangkapan dengan cara pembiusan, misalnya harus mendapat izin resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pembiusan juga membutuhkan petugas serta dokter khusus. Cara ini pun dianggap beresiko tinggi karena banteng mudah stres sehingga dikhawatirkan mati.

“Cara paling mudah untuk melanjutkan program pembiakan in situ adalah dengan meminjam banteng jantan dari luar kawasan,” kata Kordinator Suaka Satwa Banteng TN Baluran, Siswanto.

Menanti Pelepasliaran

Banteng hasil pembiakkan semi alami selanjutnya harus dilepasliarkan di habitat alam, sesuai tujuan awal program tersebut. Namun, Balai TN Baluran hingga saat ini juga belum bisa memastikan agenda pelepasliaran. Mereka menilai harus ada analisis terhadap kesiapan banteng-banteng muda tersebut sebelum dilepasliarkan. Analisis itu, di antaranya mencakup usia, kemampuan hidup berkelompok dan kualitas habitat serta sumber pakan di alam.

Banteng peserta program pembiakan selama ini membutuhkan hingga 30 kilogram rumput sebagai pakan setiap hari. Kebutuhan tersebut masih bergantung kepada pemberian petugas yang memasok saban pagi, siang dan sore. Pakan harus selalu dipasok karena rumput tidak mungkin tersedia secara alami di kandang yang sempit.

Ketergantungan ini pun menjadi satu di antara bahan pertimbangan untuk melepasliarkan banteng hasil pembiakan semi alami. Mereka dikhawatirkan bakal sulit bertahan hidup karena tidak terbiasa mencari pakan sendiri. Apalagi, ketersedian pakan di alam juga sangat terbatas, terutama pada saat musim kemarau. Petugas saja selama ini sampai harus melibatkan kelompok peternak dari desa sekitar untuk memasok rumput segar sebagai pakan ketujuh banteng.

Menurut Bambang mereka berencana memperluas kandang sehingga memungkinkan rumput tumbuh secara alami. Hal ini dilakukan agar banteng bisa cepat beradaptasi dengan kondisi alam sesungguhnya. Bangunan yang juga menyediakan sumber air untuk banteng tersebut akan didesain pada tahun depan.

“Kami membutuhkan desain yang tepat untuk pusat konservasi banteng,” ujar mantan Kepala TN Bukit Baka-Bukit Raya di Kalimantan ini.

Keberlanjutan Spesies

Pembiakan banteng bukan semata-mata untuk menambah populasi di habitat alam. Program ini sejatinya juga bertujuan memperkaya keanekaragaman genetis banteng Jawa di Baluran. Sebab, keanekaragaman genetis menjadi kunci keberhasilan dalam pelestarian spesies.

“Keanekaragaman genetis adalah fondasi bagi keberlanjutan spesies,” tegas Program Manager Copenhagen Zoo TN Baluran, Hariyawan Agung Wahyudi.

Copenhagen Zoo merupakan satu di antara lembaga yang menyokong program konservasi banteng di Baluran sejak 2014. Kebun binatang yang didirikan pada 1859 di Kopenhagen, Denmark, ini menyiapkan dokter hewan untuk memantau kesehatan satwa. Mereka juga mentransfer pengetahuan mengenai konservasi banteng kepada petugas TN Baluran.

 

Semakin banyak banteng berbeda genetis yang dilepasliarkan, kata Wahyudi, dapat meminimalkan terjadinya inbreeding di alam. Sebab selama ini banteng liar hidup secara berkelompok, yang dapat mengakibatkan perkawinan sedarah.

Sayangnya, dia menilai, program pembiakan di Baluran saat ini belum optimal dalam mempercepat penganekaragam genetis. Hal itu lantaran minimnya indukan dan fasilitas pendukung. Program pembiakan idealnya memiliki minimal 10 indukan beserta kandang dengan luas sekitar 50 ha. Jadi, anakan yang dihasilkan lebih banyak dan juga terlatih untuk beradaptasi dengan habitat alam sehingga bisa secepatnya dilepasliarkan.

“Kalau indukannya banyak, maka pelepasliaran bisa dilakukan lebih cepat.” kata dia.

IKA NINGTYAS

Liputan ini merupakan bagian dari Fellowship Biodiveristy Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ). Didukung oleh Internews





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini