Membasmi Akasia di Africa van Java

0
4


Januari 10, 2018

Lansekap Taman Nasional (TN) Baluran berkarakteristik khas. Selain terdiri atas ekosistem hutan hujan tropis hingga rawa dan terumbu karang, salah satu taman nasional tertua di Indonesia ini memiliki sabana. Hamparan vegetasi padang rumput ini menutupi hampir 40% wilayah TN Baluran.

Karakteristik sabana di Baluran mirip dengan ekosistem di Afrika sehingga dijuluki The Africa van Java. Tingkat biomassanya yang tingi dan cepat, membuat sabana menjadi habitat terbaik bagi banteng dan mamalia besar lain. Keberadaan mamalia besar juga sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka melahap rerumputan sehingga tumbuhan liar ini tidak terus meninggi dan bersemak.

Karena keunikan sabananya, TN Baluran pun akan kehilangan karakteristik aslinya apabila tanpa ekosistem tersebut. Kondisi seperti inilah yang terjadi saat ini. Vegetasi khas sabana di Baluran semakin tergerus dalam lima dekade terakhir akibat invasi akasia (Acacia nilotica).

Acacia nilotica sebenarnya tanaman endemik dari India dan didatangkan ke Indonesia di era Hindia Belanda. Akasia saat itu dibudidayakan di Kebun Raya Bogor untuk diambil getahnya. Karena proyek tersebut gagal, budidaya akasia akhirnya dihentikan,” jelas Program Manager Copenhagen Zoo TN Baluran, Hariyawan Agung Wahyudi.

Copenhagen Zoo merupakan satu di antara lembaga yang bekerja sama dengan Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur sejak 2014. Program kebun binatang yang didirikan pada 1859 di Kopenhagen, Denmark, ini antara lain membantu pemberantasan akasia dan konservasi banteng.

 

Akasia diperkirakan mulai merambah TN Baluran sekitar 1960. Hal ini merujuk kepada sejumlah arsip yang pernah dilihat Wahyudi. Arsip berupa foto-foto pada 1940-1960 tersebut menunjukkan kondisi savana di TN Baluran yang masih berupa kawasan sabana terbuka. Keberadaan kawanan banteng dan rusa di sabana pun terekam jelas dalam foto-foto tersebut. Pemandangan seperti itu tak bisa lagi dijumpai di Baluran saat ini.

Akasia di Baluran semula digunakan sebagai sekat api untuk mengendalikan kebakaran sabana pada saat kemarau. Namun, biji akasia ternyata disukai dan dijadikan pakan oleh satwa di Baluran, seperti banteng, rusa, dan kerbau. Sebaran akasia pun semakin cepat dan meluas karena penyebarannya dibantu melalui kotoran satwa tersebut. Lambat-laun tanaman ini bahkan menutupi sebagian besar kawasan sabana karena berada di lahan subur dengan ketersediaan air yang cukup saat musim penghujan.

Akasia berduri saat ini telah menginvasi sekitar 6.000 ha kawasan sabana di Baluran. Balai TN Baluran pun melancarkan program pembasmian besar-besaran untuk memulihkan kondisi alam sabana akibat serbuan akasia. Pada tahun ini, misalnya mereka menargetkan menebang vegetasi akasia seluas 100 ha.

“Penebangannya tidak mudah. Untuk menebang 1 ha akasia saja, membutuhkan 2 hari dengan 20 tenaga kerja,” kata Kepala Balai TN Baluran, Bambang Sukendro, 14 November 2017.

Copenhagen Zoo sendiri melibatkan sekitar 20 warga di sekitar TN Baluran untuk menebang, dan meracuni akasia dengan arborisida. Mereka menargetkan bisa memberantas 400 ha akasia. “Sampai tahun ini baru 130 ha yang berhasil ditebang,” ungkap Wahyudi.

Populasi Banteng

Penebangan akasia sangat penting untuk menyelamatkan ekosistem khas Baluran yang tidak dimiliki taman nasional lain. Program ini juga sejalan dengan upaya pembiakan semi alami banteng yang dilakukan oleh Balai TN Baluran.

“Program pembiakan semi alami bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan populasi banteng. Tanpa pemulihan ekosistem, keberlanjutan hidup banteng hasil pembiakan pun akan terancam,” jelas Bambang.

Upaya lain untuk memulihkan populasi banteng di Baluran ialah dengan mengonservasi satwa predator, seperti ajag (Cuon alpinus). Anjing hutan endemik Asia ini sering dituding sebagai pemangsa yang menyebabkan populasi banteng menurun di Baluran. Padahal, ajag merupakan satwa langka yang juga harus dilindungi seperti banteng Jawa.   

Menurut Wahyudi mangsa utama ajag bukan banteng melainkan satwa lain, seperti babi dan rusa. Oleh karena itu, populasi babi dan rusa harus dilindungi dari perburuan liar agar banteng tidak ikut menjadi sasaran predasi ajag.

Apabila ajag memakan banteng, berarti menjadi indikator turunnya populasi predasi utamanya seperti babi kecil dan rusa. Dengan demikian untuk menyelamatkan banteng dari ajag, maka, populasi babi kecil dan rusa harus dijaga dari perburuan liar.

Berbagai upaya pemulihan ekosistem yang dilakukan Balai TN Baluran dan Copenhagen Zoo, perlahan menunjukkan hasil. Pada 2013 populasi banteng Jawa di Baluran tercatat sekitar 32-38 ekor. Pada 2015, hasil pendataan menunjukkan populasi banteng sebanyak 46 ekor, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 32-38 ekor.

Kemudian pada 2016 tercatat ada 49 ekor dan meningkat kembali menjadi 67-70 ekor pada 2017. Namun, data terakhir ini masih terus divalidasi sebelum dipublikasikan ke publik.

Penghitungan populasi banteng tersebut sejak 2015 menggunakan 100 kamera trap milik Copenhagen Zoo yang disebar di kawasan seluas 16 ribu ha habitat alam banteng. Sebelum tahun 2015, pendataan terhadap populasi banteng di Baluran dilakukan secara manual, di mana petugas menghitung kerumunan banteng di sekitar sumber-sumber air.

 

IKA NINGTYAS

Liputan ini merupakan bagian dari Fellowship Biodiversity Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ). Didukung oleh Internews





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini