Mahesa Sempat Dilarang Ikut Acara Bagi-bagi Sembako

0
6



Jakarta: Mahesa, 12, sempat diperingati sang ayah, Djunaidi untuk tidak keluar rumah sebelum menemui ajalnya. Mahesa tewas usai ikut acara bagi-bagi sembako oleh Forum Untukmu Indonesia (FUI) di Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Saat itu, Djunaidi mengaku sempat bertemu dengan Mahesa sebelum berangkat kerja. Ia memberikan uang kepada Mahesa agar tetap di rumah.



“Pukul 08.30 WIB, saya siap-siap berangkat kerja, Mahesa saya pesankan untuk tolong jangan ke mana-mana di rumah saja, ini sarapan dan uang jajan,” kata  Djunaidi di Polda Metro Jaya (PMJ), Jalan Jenderal Sudirman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu, 5 Mei 2018.

Pada pukul 15.00 WIB, istri Djunaidi pulang dan menanyakan keberadaan Mahesa. “Dia kabarin saya tanya anak, ‘Pa kok anak (Mahesa) enggak ada di rumah’, saya jawab mungkin main,” ujar dia.

Djunaidi pun mendapat kabar Mahesa menghilang pada pukul 16.00 WIB. Kabar itu disampaikan Akmal, teman Mahesa, kepada istri Djunaidi.

“Istri saya dapat kabar dari Akmal kalau Mahesa hilang di Monas dan dia kasih tahu saya, langsung saya pulang,” ucap dia sambil berkaca-kaca.

Baca: Insiden Sembako akan Diungkap Akurat

Djunaidi pun langsung mencari Mahesa ke Monas. Keponakan dan istrinya ikut mencari. Mereka berpencar untuk mencari Mahesa.

Istrinya mencari di depan Istana Merdeka. Kemudian, ia mencari Mahesa di dekat pintu Stasiun Gambir dan keponakan mrncari di sekitar pintu masjid Istiqlal.

Pukul 21.00 WIB, Djunaidi mengaku baru menerima kabar anaknya berhasil ditemukan. Ia dihubungi oleh Satpol PP yang menemukan seseorang berciri-ciri sama dengan Mahesa, rambut keriting dan berbadan besar. 

“Pukul 21.30 WIB, saya dijemput dan dibawa ke RS Tarakan,” jelasnya.

Baca: Pemprov Harus Ikut Bertanggung Jawab atas Insiden Monas

Setiba di rumah sakit, lanjut Djunaidi, dokter mengatakan Mahesa masuk rumah sakit dibawa dua petugas Satpol PP dan tidak sadarkan diri sejak pukul 15.30 WIB.

Nahas, anak pertama Djunaidi itu dinyatakan meninggal dunia pada pukul 19.40 WIB. Nyawa Mahesa tak tertolong karena pembuluh darahnya pecah akibat panas tinggi dan dehidrasi. 

“Kata dokter tidak turun-turun suhunya, sudah tidak sadarkan diri kejang-kejang. Pukul 19.40 WIB, anak saya sudah tidak ada,” pungkasnya. 

Saat itu, lanjut dia, polisi menawarkan untuk autopsi. Namun, ia menolaknya.

(AZF)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini