Mahasiswa Dituntut Akrab dengan Pemrograman

0
8
Jakarta: Kemampuan pemrograman komputer dan pengolahan data wajib dimiliki oleh mahasiswa di era revolusi industri 4.0. Era ini pula yang menantang perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi kerja, yang bahkan pekerjaannya belum ada pada saat ini.
“Kemampuan pemrograman dan pengolahan data wajib dimiliki mahasiswa saat ini. Sama seperti zaman dulu, di mana mahasiswa perlu menguasai Bahasa Inggris. Sekarang semua sudah menguasai Bahasa Inggris,” ujar Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Intan Ahmad, saat final Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional II di Universitas Tarumanagara, Jakarta.
Dengan kemampuan pemrograman dan pengolahan data, lanjut dia, dapat meningkatkan kapasitas pekerja masa depan. Sebab pada era Revolusi Industri 4.0 ini berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya, perguruan tinggi menghasilkan tenaga kerja yang memiliki satu pekerjaan untuk seumur hidup. Maka saat ini perguruan tinggi harus mampu menghasilkan tenaga kerja yang pekerjaannya bahkan belum ada pada saat ini.
“Kita menghasilkan tenaga kerja yang pekerjaannya sendiri belum ada pada saat ini, tapi lima tahun kemudian ada,” katanya.
Intan berharap mahasiswa yang ikut serta dalam kontes robot tersebut, selalu meningkatkan kompetensi dirinya dengan belajar pemrograman. KRI Regional II diikuti 95 tim yang berasal dari 44 perguruan tinggi.
Kontes robot ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0.
Ia mengatakan, saat ini robot telah melekat dalam berbagai aktivitas manusia terutama ditunjang oleh internet of things (IoT).  Teknologi yang nyata tersebut harus dibuat sedemikian rupa agar menjadi menarik, dinamis dan tidak membosankan, yang mana dosen dan mahasiswa perlu dilibatkan bersama secara multidisiplin.
“Peserta harus mengeksplorasi kemampuannya dalam perancanangan, implementasi dan strategi serta harus mengembangkan ide-ide untuk dapat membuat dan merancang suatu wahana bergerak berbentuk robot, dengan berbagai bentuk dan struktur dan kecerdasan,” ujar Intan.
Intan menambahkan para pemenang untuk tiap regional akan dipertemukan untuk mencari juara nasional. Kemudian para juara nasional akan dikirim ke tingkat internasional.  “Biasanya anak-anak kita, kalau di tingkat internasional juara. Tahun lalu, di Amerika Serikat juara umum. Tahun ini juga juara,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Tarumanagara Agustinus Purna Irawan mengatakan, kepercayaan menjadikan Untar sebagai penyelenggara karena dipandang sebagai perguruan tinggi dengan kemampuan dalam keilmuan yang menunjang teknologi robotik.
“Teknologi robotik sejalan dengan perkembangan industri yang memasuki revolusi industri 4.0, di mana peran teknologi tidak lagi dapat dihindari dan otomatis menjadi hal yang penting,” kata Agustinus.
KRI terdiri atas lima divisi, yakni Kontes Robot Abu Indonesia, Kontes Robot Pemadam Api Indonesia, Kontes Robot Seni Tari Indonesia, Kontes Robot Sepakbola Indonesia (KRSBI) Humanoid, dan Kontes Robot Sepakbola Indonesia (KRSBI) Beroda.(CEU/MN)

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini