Luna Maya Menekuni Bisnis

0
16

Jakarta: Luna Maya “Ratu Kostmopolitan” melewati dua dekade kariernya dalam beragam profesi, mulai dari model sampul dan iklan komersial, aktris film, penyanyi, presenter, sutradara, penata busana, hingga pengusaha kuliner dan fashion. Ditambah juga, satu dua kasus kontroversial. Dia sempat absen dari dunia film layar lebar selama dua tahun sebelum akhirnya kembali lewat peran sebagai Tarra, pengusaha di Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody.
Debut akting filmnya adalah sebagai tokoh pendukung di 30 Hari Mencari Cinta (2004) garapan Upi. Dia memerankan Barbara, gadis kuliahan idaman para lelaki yang membuat ketiga tokoh utama (Maria Agnes, Dinna Olivia, Nirina Zubir) iri karena merasa kurang menarik.
Setelah itu, perempuan kelahiran Bali 1983 ini bermain di belasan film yang dirilis hampir setiap tahun hingga awal 2014. Beberapa di antaranya film horor Bangsal 13 dan laga komedi Ratu Kostmopolitan garapan Ody Harahap, drama Ruang garapan Teddy Soeriaatmadja, serta drama komedi My Blackberry Girlfriend garapan Findo Purwono HW.
Luna juga pernah menjadi produser dan sutradara untuk salah satu segmen di omnibus Pintu Harmonika (2013). Dia absen dari panggung layar lebar selama dua hingga tiga tahun sebelum muncul kembali di tiga film sekaligus pada pertengahan 2017, termasuk Filosofi Kopi (Filkop) 2 dan The Doll 2.
“Karena ada tawaran dan tawarannya menarik,” kata Luna kepada Medcom.id dalam perjalanan menuju kantornya yang berada di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, akhir pekan lalu.
“Dua tahun itu film enggak banyak. Dua sampai tiga tahun sebelum Filkop 2 itu, ya ada banyak film, tetapi – enggak tahu sih, bukan enggak menarik, ya enggak ditawari saja, aku juga sibuk yang lain,” lanjutnya.
Dalam kurun waktu itu pula, Luna merintis bisnis baju wanita yang diberi merek sesuai namanya. Dia juga membuka dua bisnis makanan, yang salah satunya bersama Uya Kuya. Untuk profesi wirausaha ini, Luna mengaku belajar banyak soal pertimbangan dan pengambilan keputusan bisnis.
“Karena (dulu) masih baru dan enggak ngerti, (aku) mengambil banyak keputusan yang salah sehingga merugikan perusahaan. Enggak tahu mau gimana, ya mengira saja ini kayaknya oke. Ternyata apa yang kita pikirkan enggak tepat. Jadi ya rugi karena kita mengeluarkan uang,” (IC)
Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini