Laporan Keuangan BI Tahun 2017 Dapat Opini WTP

0
14



Jakarta: Bank Indonesia (BI) kembali mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2017. Opini WTP telah dicapai selama 15 tahun terakhir, yang tidak lepas dari upaya BI dalam mewujudkan tata kelola yang baik.

Mengutip laman resmi BI, Senin, 21 Mei 2018, BI meyakini pengelolaan keuangan yang baik dapat membangun kepercayaan pasar dan stakeholders serta mendukung pencapaian visi BI 2024 untuk menjadi bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional. Ke depan, BI akan terus meningkatkan tata kelola untuk pelaksanaan tugas BI yang lebih baik.



Di tengah berlanjutnya ketidakpastian global, kebijakan BI pada 2017 difokuskan pada upaya mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. Upaya itu dilakukan melalui penguatan bauran kebijakan di bidang moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Di bidang moneter, kebijakan secara konsisten diarahkan untuk mengendalikan inflasi menuju sasarannya dan menjaga defisit transaksi berjalan pada tingkat yang sehat, melalui penguatan strategi operasi moneter dan kebijakan nilai tukar serta pendalaman pasar keuangan.

Berbagai kebijakan BI tersebut tercermin pada laporan keuangan BI yang disajikan dalam laporan posisi keuangan khususnya pada pos aset dan liabilitas untuk pelaksanaan kebijakan moneter, dan pos uang dalam peredaran.

Stabilitas Sistem Keuangan Prasyarat Terwujudnya Pemulihan Ekonomi

Sebelumnya, disebutkan bahwa stabilitas sistem keuangan merupakan prasyarat bagi terwujudnya pemulihan ekonomi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, kebijakan makroprudensial diarahkan untuk meningkatkan resiliensi sistem keuangan terhadap potensi risiko sistemik di tengah tantangan dan kompleksitas dinamika sistem keuangan.

“Asesmen yang dilakukan BI terhadap komponen-komponen dalam sistem keuangan, yang meliputi institusi keuangan, baik perbankan maupun nonbank, pasar keuangan, korporasi, rumah tangga, serta infrastruktur keuangan, merupakan landasan bagi perumusan kebijakan makroprudensial BI,” ungkap Gubernur BI Agus DW Martowardojo, akhir pekan lalu.

Pernyataan Agus tersebut dilakukan dalam peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No 30 Edisi Maret Tahun 2018 yang bertemakan ‘Penguatan Stabilitas Sistem Keuangan dalam Upaya Menjaga Momentum Pertumbuhan’.

Buku KSK memaparkan perkembangan kondisi dan risiko pada sistem keuangan serta faktor-faktor yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan secara akurat dan komprehensif. Selain itu, dijelaskan pula berbagai respons kebijakan Bank Indonesia yang ditempuh guna memitigasi risiko sistemik.

 

Pada 2017 merupakan periode pemulihan ekonomi global setelah pertumbuhan ekonomi dunia menyentuh titik terendah pada 2016. Perbaikan perekonomian global memperlihatkan adanya sumber pertumbuhan ekonomi global yang lebih merata, dengan motor pertumbuhan ekonomi dunia yang bersumber dari negara maju dan berkembang.

“Dari sisi domestik, stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan pada 2017 masih terjaga, disertai dengan risiko perekonomian domestik yang menurun,” kata Agus.

 

(ABD)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini