Lapas Khusus Napiter tidak Akan Mengisolasi

0
4



Jakarta: Dirjen Bimbingan Kemasyarakatakan Kementerian Hukum dan HAM Yunaedi optimistis penjara khusus narapidana terorisme akan efektif mereduksi paham radikalisme para terpidana.

Meski konsep penjara dibuat one man one cell atau satu ruangan hanya dihuni oleh satu orang, Yunaedi memastikan hal itu tak akan berlaku selamanya.



“Tidak akan mengisolasi. Mereka hanya dipisahkan dalam batas waktu tertentu,” katanya, dalam Metro Pagi Primetime, Jumat, 25 Mei 2018.

Yunaedi mengatakan konsep penjara khusus terorisme pada prinsipnya sama dengan lapas secara umum. Secara filosofis penjara hanya media untuk mengantarkan warga binaan kembali ke masyarakat setelah dibekali dengan mental, sosial, dan keterampilan.

Narapidana juga tak hanya akan mendapatkan program deradikalisasi namun juga akan dinilai bagaimana mereka berperilaku selama dalam tahanan. Hal ini untuk mencari tahu seberapa besar perubahan dalam diri narapidana ke arah lebih baik.

“(Lapas high risk) memang one man one cell tapi kalau napi sudah melakukan perubahan menuju ke perbaikan mereka akan dipindahkan ke tingkat medium security,” katanya.

Yunaedi menjelaskan di dalam lapas khusus terorisme para narapidana akan dibagi menjadi tiga kategori. Pembagian ini disesuaikan dengan pola pendekatan secara keamanan.

Narapidana yang berisiko tinggi seperti teroris dengan ideologi ‘batu’ akan ditempatkan di sel perseorangan dengan sistem pengamanan maksimum. Sementara bagi pengikut yang dimungkinkan lebih mudah dideradikalisasi akan ditempatkan di sel yang pengamanannya level menengah dan bawah. 

Pola besuk dibedakan

Tak hanya dari sisi pengamanan, pola besuk tahanan juga akan diatur lebih ketat. Khusus narapidana high risk, mereka hanya boleh dibesuk oleh keluarga inti dan tidak diperkenankan bertemu langsung di dalam satu ruangan melainkan ditempatkan di ruang khusus.

Dua ruangan akan dibuat bersekat dengan pengamanan ketat. Narapidana yang dibesuk keluarga hanya diizinkan berkomunikasi berhadapan melalui alat bantu komunikasi seperti pengeras suara atau telepon. 

“Tapi ini tidak selamanya, ada batas waktu karena kami juga melakukan penilaian bersama BNPT, Ditjen Binmas Kemenkumham dan stakeholder. Dengan begini mudah-mudahan ada perubahan menuju lebih baik baru kemudian dipindahkan ke sel dengan medium security,” jelas dia.

(MEL)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini