Komite III DPD Dengarkan Curahan Hati PMI Bermasalah di Qatar

0
6
JAKARTA, TERKINI.COM- Komite III DPD RI saat ini tengah memantau kondisi pekerja migran Indonesia (PMI) di KBRI Doha, Qatar. Kondisi pahlawan devisa negara yang berada di penampungan cukup memperihatinkan.
“Kami sedang mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh PMI yang bermasalah dan akan membantu mencarikan solusinya,” kata ketua rombongan delegasi Komite III DPD RI Abdul Aziz, dalam keterangan tertulis, Selasa, 29 Mei 2018.
Saat ini, KBRI Doha menampung sekitar 45 PMI bermasalah. Mereka masih menunggu penyelesaian kasus hingga proses kepulangan ke Tanah Air.
Pada umumnya, banyak juga kasus yang disebabkan proses keberangkatan yang tak sesuai prosedur (unprosedural). Mayoritas PMI ilegal terbujuk gaji tinggi, terdesak kebutuhan keluarga, hingga dipaksa berangkat karena hutang budi setelah dipinjami uang.
Selain itu, ada juga PMI di Qatar yang menjadi korban penipuan seperti pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan, dokumen ditahan, gaji tidak dibayarkan, penyiksaan, dikriminalisasi, dan lain sebagainya.
Salah satunya disampaikan oleh Wastiri. TKW asal Jawa Tengah itu mengalami penyiksaan dari majikan perempuan.
“Saya sempat minta pulang tapi enggak dikasih, surat-surat diambil, sering disiksa majikan perempuan ketika anak-anaknya tidak dirumah, hingga pernah disetrika,” kata Wastiri.
Hal serupa juga dialami Sani. PMI asal Banten itu sering disiksa oleh majikan perempuanya karena cemburu.
“Saya dituduh mengambil perhiasan majikan hingga disiksa dan dipukul kepala dengan penggorengan,” ucap Sani.
Lain lagi kasus yang dialami Nanang dan Dede, dua bersaudara dari Cianjur yang menjadi korban penipuan. Nanang bersama saudaranya dijanjikan bekerja di Qatar sebagai tukang dekorasi dan harus membayar Rp19 juta. Namun, saat tiba di Qatar, Nanang dan saudaranya justru disuruh menjadi kuli bangunan. Tak hanya itu, Nanang juga tak mendapatkan gaji seperti yang dijanjikan.
“Saya dijanjikan gaji oleh sponsor 2.500 QR, tetapi hanya dibayar 1.000 QR,” jelas Nanang.
Sementara kasus yang dialamai Casmen binti Basir, PMI asal Indramayu dinikahi secara siri oleh majikan laki-laki tapi tidak bertanggung jawab. “Saya 11 tahun belum pulang ke Indonesia, dan sekarang memiliki anak umur 7 tahun,” kata Casmen.
Menanggapi berbagai kasus tersebut, senator dari Jawa Tengah GKR Ayu Koes Indriyah menyampaikan rasa prihatin. Dia meminta agar pengalaman tersebut dapat dijadikan pelajaran.
“Kami juga meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan PMI yang bermasalah,” tutur GKR Ayu.
Sementara itu, senator Sulawesi Utara Abd Jabbar Toba mengimbau PMI bermasalah untuk kembali dan bekerja di Indonesia.
“Jangan mudah terbujuk janji yang muluk-muluk untuk bekerja di luar negeri,” ucap Abd Jabbar Toba.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Komite III DPD RI terdiri atas Abdul Aziz (Sumsel), Rosti Uli Purba (Riau), GKR Ayu Koes Indriyah (Jateng), I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (Bali), Habib Hamid Abdullah (Kalsel), Rafli (Aceh), Muslihuddin Abdurrasyid (Kaltim), dan ABD Jabbar Toba (Sultra).(ROS/MetroTV)
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini