Ketua DPR Ingin Ada Pengamanan Maksimum Napiter

0
2



Personel kepolisian bersiaga menjelang pemindahan napi teroris yang terlibat kerusuhan di Mako Brimob, di dermaga penyeberangan Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/5). Foto: Antara


Jakarta: Mengantisipasi berulangnya peristiwa di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Salemba, Mako Brimob, Depok, Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong pimpinan Polri mengevaluasi sistem pengamanan narapidana teroris (napiter). Ia meminta diberlakukan pengamanan ekstra maksimum.

 

Pengamanan ekstra ini, kata dia, harus menutup kesempatan napiter menguasai peralatan sesederhana apa pun. Karena, menurutnya, alat apa pun bisa digunakan oleh mereka untuk membobol atau mengancam petugas rutan.

 

“Fakta bahwa lima korban tewas akibat luka bacokan senjata tajam tentu saja memunculkan pertanyaan; dari mana atau bagaimana prosesnya sehingga napiter bisa memiliki atau menguasai senjata tajam? Masalah ini tentu harus diselidiki. Siapa yang membawa dan memberikan senjata tajam kepada mereka?” kata dia, melalui keterangan tertulis, Kamis, 10 Mei 2018.

 

Ia menilai penguasaan senjata tajam oleh napiter menjadi pertanda bahwa sel teroris di Rutan Mako Brimob belum menerapkan standar pengamanan ekstra maksimum.

 

“Pengamanan ekstra maksimum juga mewajibkan keluarga atau rekan napiter membatasi barang-barang bawaan saat berkunjung dan berdialog dengan para narapidana,” kata Bamsoet.

 

Meski begitu, ia merasa prihatin dan menyampaikan duka mendalam bagi semua anggota Brimob yang tewas. DPR, kata Bamsoet, mengapresiasi Polri yang berhasil melakukan tindakan yang tepat atas drama penyenderaan 36 jam yang dilakukan terpidana teroris.

Baca: Presiden Tegaskan Indonesia tak Takut pada Teroris

 

Kerusuhan disebut bermula karena adanya insiden kecil di blok narapidana teroris, Rumah Tahanan cabang Salemba, Mako Brimob, Depok, Selasa, 8 Mei 2018 malam. Namun, insiden itu berubah menjadi teror yang menyebabkan lima anggota polisi gugur dan empat lainnya terluka.

 

Seorang anggota polisi sempat disandera dan para narapidana mampu menguasai seluruh blok di rutan itu selama sekitar 36 jam. Melalui sejumlah pendekatan, sebanyak 145 dari total 155 narapidana akhirnya menyerah.

 

Kemudian, 10 narapidana yang menolak menyerah diserbu aparat keamanan. “Dengan tembakan, bom, granat asap, granat air mata, ternyata 10 teroris yang tersisa ikut menyerah. Dengan demikian lengkap 155 tahanan teroris telah menyerah kepada aparat keamanan Indonesia,” kata Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto.

 

Ia menjamin penyerbuan yang dilakukan pada Kamis, 10 Mei pagi, tersebut sudah sesuai standar operasional internasional. Ia juga memastikan tak ada korban jiwa saat penyerbuan.

 

(UWA)








Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini