Kenaikan Suku Bunga RI akan Melihat Ekonomi AS

0
2



Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Arif Wicaksono)


Yogyakarta: Deputi Gubernur Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh baik dengan kenaikan rating kredit yang diberikan beberapa lembaga dunia. 

Meskipun ekonomi Indonesia masih kuat, Indonesia tak bisa lepas dengan kenaikan suku bunga yang terjadi di beberapa negara di dunia termasuk Amerika Serikat (AS).

Dia mengatakan bahwa kenaikan suku bunga Indonesia akan dipengaruhi oleh kenaikan ekonomi AS yang akan mencapai tiga persen pada 2019. Kenaikan ini akan diikuti dengan kenaikan suku bunga The Fed.



Suku bunga dunia mulai bergerak naik dari 2017. AS sudah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali. Kemudian  Inggris juga sudah menaikkan suku bunga. Selain itu kanada juga sudah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali. Meksiko juga sudah menaikkan suku bunga sebanyak satu kali.

“Untuk tahun ini Inggris akan kembali naikkan bunga. Kanada juga anak naikan suku bunga. Australia juga akan naik sekali. Selandia Baru akan naik dua kali,” kata dia di Yogyakarta, Senin, 7 Mei 2018.

Dia menambahkan negara emerging market seperti Korea Selatan, Filipina, dan Thailand juga akan menaikkan suku bunga. Dia menambahkan kenaikan suku bunga mengacu kepada inflasi.  Seandainya inflasi AS mencapai dua persen maka level suku bunga bisa mencapai tiga persen.

Selain itu inflasi yang rendah sebanyak tiga persen serta defisit yang terkendali akan membuat Indonesia tak akan menaikkan suku bunga secara tinggi. Indonesia pernah menurunkan suku bunga ketika AS menaikkan suku bunganya.

Namun pergerakan mata uang rupiah yang sempat mendekati level Rp14 ribu per USD akan menjadi perhatian BI karena dikhawatirkan akan membebani dunia usaha. Kenaikan suku bunga akan membuat capital inflow untuk kembali ke indonesia setelah keluar dalam beberapa bulan ini.

Jangka Panjang

Dia pun mengatakan bahwa Bank Indonesia sudah berusaha melakukan kerja sama mata uang secara bilateral swap terhadap mata yang lokal seperti Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara lain. Namun ini masih jangka panjang karena sebagian besar pelaku dunia usaha masih memakai mata uang dolar AS.

“Jadi kita masih butuh proses untuk mencegah ketergantungan terhadap dolar AS,” tegas dia.

(AHL)










Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini