Kebun Hidroponik, hydroponic farming, food

0
7


Mei 3, 2018

Oleh Helena E. Rea

Tangerang Selatan, Banten. Syahruddin sudah bekerja pada sebuah perusahaan minyak dan gas lepas pantai di Kalimantan Timur, selama 25 tahun. Ia dan timnya bertugas memberikan data dan evaluasi sebelum melakukan pekerjaan konstruksi bawah laut, seperti memasang pipa sambung minyak atau kabel komunikasi. 

Hingga tahun 2010, Syahruddin melakoni pekerjaan yang berbahaya tersebut sebelum memutuskan keluar akibat lesunya bisnis perminyakan global. 

Bersama istri dan ketiga anaknya, Syahruddin memutuskan untuk kembali ke Bandung, Jawa Barat dan bekerja sebagai pegawai lepas. 

Tidak betah berdiam diri, Syahruddin yang terbiasa menghabiskan waktu hingga enam bulan di kapal mulai menekuni hobinya, berkebun di rumah. Keseriusan menekuni hobi tersebut merupakan perkenalan pertamanya dengan kebun hidroponik. 

“Pertama kali berkebun karena hobi saja. Saya pada awalnya belum mengenal ada namanya pertanian hidroponik,” ujar pria lulusan jurusan Meteorologi, Oseanografi, dan Geofisika tahun 1978, Institut Teknologi Bandung (ITB), kepada Ekuatorial.com, beberapa waktu lalu.  

Dari sekadar hobi berkebun, Syahruddin akhirnya serius ingin mengembangkan kebun hidroponik dan berhasil mendapatkan dukungan investasi dari kawan-kawan kuliahnya yang tergabung dalam Koperasi Jasa Omega Ganesha Mandiri, pada tahun 2015. 

Tri Mulyani, istri Syahruddin, yang juga alumni ITB jurusan yang sama dengan suaminya, mengatakan bahwa koperasi yang memiliki anggota sedikitnya 100 orang tersebut dibentuk karena keinginan mereka untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung. 

Mulai dari ide peternakan ayam hingga perkebunan pisang dilontarkan dalam pertemuan tersebut. Sayangnya, terkendala dengan kebutuhan lahan dan modal yang besar.  

“Banyak ide [tapi] semua terkendala dana karena nilai investasi yang besar,” ujar Tri. 

Setidaknya 25 dari 100 anggota koperasi terlibat dalam investasi kebun hidroponik yang digagas oleh pasangan suami istri tersebut. Salah seorang anggota, Irian Sitorus, yang juga pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Paripurna (STIE Paripurna) di Tangerang Selatan, menyediakan lahan seluas 621 meter persegi di area Graha Bintaro, Tangerang Selatan. 

Dengan lahan yang terbatas, Syahruddin bisa membangun 31 kompartemen  berbentuk huruf A. Satu kompartemen adalah satu blok instalasi hidroponik berbentuk huruf A yang berisi enam tingkat pipa paralon pada masing-masing sisinya. Setiap paralon terdapat 36 titik tanam sehingga total ada 432 lubang tanaman. Ratusan kompartemen ini diletakkan pada posisi yang mendapatkan pasokan matahari yang cukup.  

Kompartemen berbentuk A ini adalah instalasi dengan 6 tingkat pipa paralon di masing-masing sisi. Foto oleh Helena E. Rea

Pada September 2016, Kebon Hidroponik Omega, yang merupakan singkatan dari tiga bidang studi, — Oseanografi, Meteorologi, dan Geofisika –, yang diambil oleh Syahfruddin, Tri Mulyani, dan rekan-rekannya, siap ditanami. 

“Kami mencoba membuat kebun sayuran. Saya yang belajar karena saya punya waktu banyak,” ujar Syahruddin yang keahliannya melakukan survei dasar laut untuk mencari titik bor minyak. 

Mereka pun menyemai bibit sayuran seperti kale, selada, pakcoy, caisim, sawi, bayam, kangung, dan lainnya, kemudian mengembangkannya dalam media tanam (rockwool), memastikan benih tumbuh dengan baik, hingga panen.

Masa tanam setiap tanaman berbeda satu dengan yang lain. 

Untuk kangkung membutuhkan 15-21 hari hingga panen terhitung sejak hari setelah tanam, kale membutuhkan sedikitnya 35 hari untuk panen, brokoli bahkan membutuhkan waktu hingga dua bulan hingga panen, sementara pakcoy, caisim, sawi putih, dan selada sama-sama membutuhkan waktu hingga 30 hari sampai waktu panen. 

Untuk menjaga sayuran tetap bersih, setelah tanaman dipanen dicuci dan di-ozonizer sebelum dikemas. Lalu produk siap diserahkan ke pelanggan. 

Tapi, tak selalu tanaman tumbuh subur seperti yang diharapkan karena banyak tanaman yang mati. 

“Saya sempat sangat khawatir,” ungkap Syahruddin. “Buat saya, pertanyaannya adalah apakah ini perhitungannya matematis?” 

Kalau jawabannya adalah perhitungan matematika, katanya, maka ada yang salah dalam proses menanam, karena idealnya harus tumbuh semua. 

“Pengetahuan itu sebetulnya kebiasaan saja dengan yang latar belakangnya yang berbeda,” katanya yang akhirnya bertanya kepada rekannya yang bekerja di Kementerian Pertanian. 

Melalui rekannya tersebut, katanya, ia memahami bahwa dalam berkebun tidak ada perhitungan matematika. 

“Misalnya, kita menanam beberapa pohon, maka ada yang mati, ada yang tumbuh bagus, begitu konsepnya dalam berkebun. Tetapi, persoalan disiplin dan ketekunan jadi kunci utama, day by day harus dilakukan,” ujarnya. 

Menjadi petani, katanya, memberikan perspektif lain ketimbang saat menjadi ahli geofisika yang berhadapan dengan kematian setiap saat. Dalam bertani, ia menemukan sisi kehidupan baru. Setiap melihat benih bertumbuh Syahruddin melihat kebesaran Allah di situ. 

Masya Allah, dari benih yang kecil ini bisa tumbuh menjadi sayuran yang besar,” ucapnya. 

Tri menyatakan bahwa kultur bukan sebagai petani menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan Kebon Hidroponik Omega. 

“Kultur kita bukan petani, jadi tidak terlalu mengikat. Sementara, kebun hidroponik kita harus kontrol tiap hari,” ujar Tri. 

 

Memastikan Keberlanjutan dan Kebaikan untuk Sesama 

Berawal dari hobi, menekuni kebun hidroponik belum bisa dikatakan memberikan keuntungan dari segi bisnis. 

Omzet penjualan mencapai 18 juta rupiah per bulan dari penjualan 3.000 kemasan dengan harga Rp6.000 per kemasan yang dihasilkan dari 25 kompartemen. 

Sementara, biaya operasional untuk 25 kompartemen berkisar antara 12 hingga 15 juta rupiah. 

“Kalau mau cari kaya dari hasil kebun hidroponik sekarang ini terlalu naif,” ujar Tri. Ia menambahkan bahwa pasar hasil kebun hidroponik belum tercipta karena warga kota, pada umumnya, belum mengenal kelebihan sayur hasil kebun tersebut. 

“Pasar kami adalah teman atau tetangga,” jelasnya.  

Tri Mulyani menyadari tantangan untuk menjadi petani dan percaya semua bisa diatasi dengan waktu dan kesabaran. Foto oleh Helena E. Rea

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa produk hidroponik harus bersaing keras di pasar karena harganya lebih mahal. 

Meski demikian, ia menyatakan bahwa prospek pasar sangat menjanjikan dan butuh waktu serta kesabaran untuk mencapai keuntungan balik. 

Model bisnis yang dikembangkan kemudian adalah satu kebun di area perumahan dengan harapan menciptakan konsumen di wilayah tersebut.

“Macam-macam end-user. Ada yang pribadi, ada yang mereka punya kegiatan sosial dia ambil di kita untuk disumbangkan ke komunitasnya,” ujar Tri yang menargetkan break-even point (BEP) pada tahun 2019. “Beberapa kawan dari koperasi juga membeli sayuran dari Kebon Hidroponik Omega dan kemudian disalurkan ke panti-panti asuhan.”

 

Pendidikan Kebun Hidroponik Sejak Dini

Tak cukup hanya dengan mengembangkan Kebon Hidroponik Omega, Tri juga bergerak di bidang pendidikan untuk menyebarluaskan model pertanian tersebut. 

Sejak 2017, Tri sudah menerima lebih dari 16 kelompok atau total 300 orang, mulai dari anak-anak sekolah, dokter, hingga kelompok masyarakat lainnya, yang ingin belajar pertanian hidroponik

Dari 16 kelompok tersebut, katanya, sedikitnya 60 persen dari jumlah yang pernah menerima pelatihan kemudian mengembangkan sendiri kebun hidroponik. 

Syahruddin mengajarkan komunitas setempat bagaimana mereka bisa memulai kebun hidroponik dengan menggunakan barang-barang bekas. Photo by Helena E. Rea

Untuk anak-anak sekolah, mereka datang belajar sebagai bagian dari mata pelajaran atau program ekstrakurikuler dari pihak sekolah. 

“Mengajarkan anak-anak memang butuh kesabaran agar mereka memahami dulu bagaimana proses bertanam dan apa manfaatnya,” jelasnya. 

Ia menceritakan bahwa anak-anak sekolah antusias dalam mempelajari pola dan teknik bertanam karena sebagai anak yang tumbuh dan berkembang di wilayah urban agak sulit untuk membuat mereka paham tentang fenomena alam dan kaitannya degradasi lingkungan dan perubahan iklim. 

Salah satu sekolah di Jakarta Timur telah menjadikan hidroponik sebagai subjek pendidikan lingkungan dan kelompok ilmiah remaja. Photo by Helena E. Rea

“Mereka hanya paham bahwa cuaca semakin panas. Fenomena iklim yang mereka pelajari di sekolah dan pola musim hujan dan musim panas tampak menjadi sangat anomali,” ujar Usep, pengampu pendidikan pertanian dari Pesantren Baiturrahman, Bandung, Jawa Barat. 

“Yang saya pelajari menanam membutuhkan matahari dan air. Sehingga, sayuran bisa tumbuh dengan baik,” ujar Siti, 13 tahun, dari kelas 8, yang ikut pelatihan pertanian hidroponik bersama kawan-kawan sekolahnya dengan menggunakan medium botol bekas. 

“Bagian yang paling menyenangkan dalam belajar ketika mengetahui jenis sayuran” ujar rekannya Fauzi Robi Gunadi, dari kelas kelas 8. “Kami belajar bahwa kami bisa menggunakan barang bekas untuk kebun hidroponik. Meski mendapatkan vitamin untuk sayuran ini susah.”

Tri menyatakan bahwa masih banyak sekolah atau organisasi yang ingin diajak untuk mengembangkan kebun hidroponik. Selain itu, ia dan suaminya, dengan dukungan anggota Koperasi Jasa Omega Ganesha Mandiri, mereka ingin membantu mengembangkan kebun hidroponik di halaman perumahan warga dan menyebarkan pola hidup sehat. 

 

Kebun Hidroponik dan Kemandirian Pangan 

Widiyanto, Manager Hak Atas Pangan, Oxfam Indonesia, mengatakan bahwa kebun hidroponik merupakan inisiatif dari warga perkotaan untuk menghadapi dua isu, yaitu keterbatasan lahan dan mengurangi pemanasan global. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kebun hidroponik bisa menjadi solusi untuk kemandirian pangan bagi warga perkotaan. Tidak hanya menunggu persediaan dari pedesaan, melainkan bisa memproduksi sayuran sendiri. 

“Kelompok masyarakat bisa menjadi pasar lokal dan justru menjadi penopang terhadap kebutuhan pangan sehat,” ujar Widiyanto. “Adanya ketersediaan pangan lokal membuat kita tak bergantung pada produsen di luar lingkungan kita.”

Model Kebon Hidroponik Omega sudah mulai direplikasi di Ciledug, Cipayung untuk wilayah Jakarta. Sementara, di Bandung, sudah mulai dikembangkan di Punclut dan Dago. Ekuatorial.

 

Helena E. Rea adalah journalis yang berbasis di Jakarta.





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini