Dawan Rahardjo Wafat, Jimly: Indonesia Kehilangan Intelektual Handal

0
7


JAKARTA, TERKINI.COM- Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshidiqie mengatakan Indonesia kehilangan salah satu tokoh intelektual handal seiring wafatnya cendikiawan muslim Dawam Rahardjo, Rabu (30/5/2018) malam.
“Innalillahi wa’inna ilaihi roji’un. Kita kehilangan satu lagi tokoh panutan di dunia intelektual dan aktivis yang handal untuk kemajuan bangsa,” kata Jimly dalam pesan singkat di Jakarta, Kamis dini hari.
Jimly mengatakan, Dawam merupakan sosok intelektual, aktivis serta pemikir sosial dan ekonomi politik yang selalu “up to date” atau mengikuti perkembangan terbaru. Mantan Ketua MK itu mengajak seluruh pihak mendoakan kepergian Dawam.
Sementara itu mantan Menko Kemaritiman serta Menko Ekuin Rizal Ramli memandang sosok Dawam sebagai seorang ekonom kerakyatan.
“Ia cendikiawan muslim, tokoh pluralis dan seorang muslim yang berani. Dia tidak gentar saat sebagian umat Islam di Indonesia mencela karena pembelaannya terhadap kaum minoritas di Indonesia,” ujar Rizal dihubungi di Jakarta, Kamis dini hari, seperti dilansir Antara.
Rizal mengatakan, pembelaan Dawam terhadap kaum minoritas dan marjinal selalu berada dalam koridor kepantasan dan rasional.
Dawam Rahardjo wafat Rabu (30/5/2018) di RS Islam Jakarta pada usia ke-76 tahun. Pria kelahiran Solo, 20 April 1942 itu ikut memberikan sumbangsih dalam ide pendirian organisasi ICMI, hingga menjadi anggota Dewan Kehormatan ICMI periode 2015-2020.
Semasa hidupnya Dawam banyak menulis buku antara lain berjudul Esai-esai ekonomi politik (1983), Deklarasi Mekah: Esai-esai ekonomi Islam (1987), Etika bisnis dan manajemen (1990), Habibienomics: Telaah pembangunan ekonomi (1995), Paradigma Alquran: Metodologi dan kritik sosial (2005), serta Nalar Politik Ekonomi Indonesia (2011).

Sang guru

Secara terpisah, Mukhaer Pakkana, Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah mengatakan,  M Dawam Rahardjo seorang pemikir ekonomi Islam, yang sekaligus ahli iklan terkemuka.
Menurut Mukhaer, Dawam juga yang membawa Abrurrahman Wahid ke Adi Sasono yang waktu itu memimpin lembaga studi yang dikenal Lembaga Studi Pembangunan (LSP).
Bersama Adi Sasono, Abdilah Toha, AM Syaefudin dan M Amin Aziz, medirikan Pusat Pengembangan Agribisnis, kemudian Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), Lembaga Studi Agama dan Filsafat yang menerbitkan jurnal ilmiah Ulumul Quran juga turut membidani Forum Komunikasi Pembangunan Indonesia. Lembaga ini sebagai cikal bakal Ikatan Cendekiawan Islam Indonesia ICMI. Almarhum juga ikut melahirkan Harian Republika, bahkan untuk yang terahir ini, rancangannya dibangun di ruang kerjanya di Empang Tiga 31A.
Kedekatanya dengan kalangan cendikiawan muda, menurut Mukhaer, membuat Dawam punya banyak murid atau teman-teman yang mengaku menjadi muridnya sampai sekarang. Murid Dawam itu di antaranya Fachry Ali, Azzumardi Azzra, Didiek J Rachbini, Hadimulyo, Saeful Muzani, Budi Munawar Rahman, Bachtiar Efendi, Kurniawan Zulkarnaen, dan banyak lagi.
“Mereka itu meski sudah Profesor dan Doktor tetap mengaku murid Mas Dawam,” ujarnya.
Sang Guru itu pergi dengan membawa kenangan dan segudang ilmu dan pemikiran Islam, untuk menghadap Illahi Rabby Rabu 16 Ramadlan pukul 21.55 di RSI Yarsi, dan  dikebumikan di TMP Kalibata Kamis 31 Mei 2018 berdekatan dengan Cak Nur (Nurcholis Majid) dan Bang Imad (Imaduddin Abdurrahim).
Selamat jalan Mas Dawam. (Ant/MC)

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini