Islam di Indonesia: Pertautan Sejarah yang Berliku  – Nasional Terkini

0
18


Sosiolog M. Najib Azca masih duduk di kelas 1 SMA di Kota Pekalongan, Jawa Tengah pada 1984. Ayahnya seorang Masyumi, dan keluarga besar Najib Azca berkhidmat pada Nahdlatul Ulama (NU). Mengikuti jejak keluarganya yang aktif dalam pergerakan, ketika itu dia adalah Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Pekalongan.

Menjadi aktivis muda dalam gerakan Islam bukan hal mudah di era Orde Baru. Najib bercerita, itu adalah saat di mana dia melihat sendiri bagaimana kawan-kawan perempuannya dilarang memakai jilbab, bahkan dikeluarkan dari sekolah.

“Waktu itu kami dicari-cari oleh aparat. Saya yang masih SMA sudah pernah dipanggil ke Kodim, Koramil, Polres, karena dianggap menentang kebijakan azas tunggal Pancasila waktu itu. Proses politik yang terjadi luar biasa. Pada waktu itu, Pak Harto menjadi presiden dengan rezim Orde Baru yang didominasi kekuatan militer,” ungkap Najib Azca.

M Najib Azca (tengah) dan Mahfud MD (kanan) dalam pembukaan pameran “Masa Depan Islam di Indonesia” di Auditorium Gedung Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Pameran berlangsung mulai 15 Juli – 15 Agustus, 2019. (Foto: Humas

​Kisah itu menjadi bagian dari orasi budaya M Najib Azca, dalam pembukaan pameran Masa Depan Islam di Indonesia di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Najib memotret bagian kecil dari kisah hidupnya sendiri, untuk membawa gambaran besar tentang Islam di Indonesia. Najib adalah Sosiolog, yang juga Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian, UGM. Ketika masih kuliah, dia pernah menjadi wartawan Tabloid Detik yang dibredel Orde Baru pada 1994. Tidak hanya melihat dari luar, Najib terlibat langsung dalam pergulatan politik di era Orde Baru dan Reformasi.

Hubungan Islam dan pemerintah Orde Baru, kata Najib, baru beranjak relatif harmonis di era akhir kepemimpinan Soeharto tahun 90-an. Salah satu penandanya adalah kelahiran Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Peran politik umat Islam sendiri telah ada sejak Indonesia belum merdeka. Partisipasi dalam pentas politik itu terus meningkat dan menjadi faktor dan aktor kunci dalam transisi menuju demokrasi di Indonesia.

“Umat Islam di Indonesia, melalui berbagai cara, – lain melalui dua kekuatan raksasa masyarakat madani, yaitu Muhammadiyah dan NU, telah, sedang dan akan terus memainkan peran penting dalam proses transisi dan selanjutnya proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Bahkan hari-hari ini, wajah Islam yang demokratis, damai dan berkeadaban menjadi model bagi Islam di dunia internasional,” tambah Najib.

Pameran Masa Depan Islam di Indonesia, yang berlangsung mulai 15 Juli – 15 Agustus, menyajikan dokumentasi, produk seni Islami, hingga kajian persinggungan Islam dan politik kebangsaan. Melalui semua materi pameran itu, Universitas Islam Indonesia ingin menyuguhkan dinamika Islam di Indonesia, dalam skala terbatas. Meski begitu, melalui paparan yang ada, masyarakat bisa memahami bahwa apa yang terjadi hari ini di Indonesia, adalah buah perubahan sejarah. Pameran akan berlangsung hingga pertengahan Agustus 2019.

Penerapan Islam Wasathiyah

Guru Besar Fakultas Hukum UII, Mahfud MD mencoba menghadirkan masa lalu dengan ceritanya tentang generasi muda Islam tahun 70-an. Tumbuh di masyarakat muslim, Mahfud melihat sendiri ketika itu, muslim seolah menjadi warga kelas dua di Indonesia. Mereka sekolah di madrasah, melanjutkan pendidikan ke pesantren.

Sejumlah buku kuno juga dipamerkan dalam pameran "Masa Depan Islam di Indonesia" yang berlangsung mulai 15 Juli-15 Agustus 2019 di Auditorium Gedung Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. (Foto: Nurhadi Sucahyo/Terkini.com)

Sejumlah buku kuno juga dipamerkan dalam pameran “Masa Depan Islam di Indonesia” yang berlangsung mulai 15 Juli-15 Agustus 2019 di Auditorium Gedung Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. (Foto: Nurhadi Sucahyo/Terkini.com)

“Setelah itu proyeksinya ke sekolah agama dan tidak bisa menjadi pejabat di urusan yang di luar urusan agama. Dulu sekolah madrasah itu pikirannya paling tinggi bekerja di Departemen Agama, menjadi naib, menjadi guru agama, modin. Kalau jadi dosen, ya di IAIN. Itu tahun 70-an,” kata Mahfud.

Indonesia, kata Mahfud, saat ini punya tantangan untuk menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan. Dampak positifnya tidak hanya akan dirasakan bagi muslim sendiri, tetapi juga bagi umat non Islam. Penyebaran Wasathiyah Islam atau Islam yang moderat diperlukan agar dakwah dilakukan secara inklusif.

“Dengan mengembangkan wasithiyah Islam, atau Islam moderat yang adaptif terhadap perubahan, maka Islam di Indonesia itu akan menjadi gaya hidup dari masyarakat. Di Indonesia tidak perlu negara Islam, karena Indonesia ini akan sendirinya menjadi negara Islami. Beda negara Islam dan negara Islami. Islami itu kata sifat,” tambah Mahfud.

Mahfud mengutip penelitian Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari dari George Washington University mengenai topik “How Islamic are Islamic Countries.” Dalam sejumlah publikasi hasil penelitian di tahun yang berbeda, kedua peneliti menempatkan negara-negara berpenduduk mayoritas non muslim, sebagai negara paling islami. Selandia Baru, Irlandia, dan Kanada adalah beberapa negara yang dinilai sangat Islami. Predikat ini diberikan karena justru negara-negara itu menerapkan pesan-pesan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia berada di peringkat 140 dari 208 negara yang diteliti.

Pameran Masa Depan Islam di Indonesia, Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Pameran berlangsung mulai 15 Juli-15 Agustus 2019. (Foto: Humas UII)

Pameran Masa Depan Islam di Indonesia, Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Pameran berlangsung mulai 15 Juli-15 Agustus 2019. (Foto: Humas UII)

Membentuk Peran Anak Muda

Hadza Min Fadhli Robby dari Yayasan Badan Wakaf UII yang menyelenggarakan pameran ini memaknai Wasathiyah sebagai kerja kolaboratif. Wasathiyah, kata Robby, tidak mesti dimaknai sebagai terbatas pada sifat moderat. Dalan penerapan di kehidupan sehari-hari, konsep kerja kolaboratif itu adalah menyertakan umat agama lain dalam dialog bersama. Jika perlu, kata Robby, masjid memberi akses untuk kegiatan semacam itu.

“Jadi bagaimana ruang publik, seperti masjid, yang sebenarnya milik orang Islam, bisa ditempati juga oleh orang-orang non muslim. Oke lah, masjid adalah tempat ibadah, tetapi kan juga punya serambi. Tempat itu lah yang kemudian menjadi tempat di mana anak muda muslim dan non muslim, dari berbagai etnis, membicarakan masalah-masalah sosial yang ada di lingkungannya. Bagaimana anak muda menjadikan masjid sebagai ruang publik,” ujar Robby.

Mengapa anak muda penting dalam dialog antar umat beragama ini?

Menurut Robby, karena merekalah yang akan menentukan peran Islam di Indonesia ke depan. Indonesia membutuhkan ruang untuk diskusi antar pemeluk agama dan anak muda memegang peran penting dalam proses itu. Masa depan Indonesia, ditentukan oleh bagaimana pemerintah dan masyarakat saat ini, membentuk peran anak muda dalam kehidupan sosial dan dialog antar agama.

“Kami ingin mewacanakan ke masyarakat Indonesia, bahwa kita bisa berjuang dalam hal-hal yang sifatnya tidak hanya di politik, tetapi juga non struktural. Karena lewat hal-hal inilah, kita bisa membangun masa depan Indonesia dan masa depan Islam Indonesia secara lebih baik,” tambah Robby. [ns/lt]



Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini