Indonesia Tuan Rumah Konferensi Pembangunan Palestina "CEAPAD"

0
11


Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan para pejabat senior pada the Conference on Cooperation among East Asian Countries for Palestinian Development (CEAPAD). Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir menjelaskan CEAPAD yang dibentuk pada 2013 telah menjadi instrumen untuk memberikan bantuan ekonomi dan pembangunan, termasuk bantuan teknis bagi Palestina.

Conference on Cooperation among East Asian Countries for Palestinian Development (CEAPAD) yang berlangsung di Jakarta pada kamis (31/5) ini merupakan persiapan menjelang pertemuan tingkat menteri luar negeri CEAPAD yang akan diselenggarakan di Thailand pada 7 Juni mendatang.

Pertemuan pejabat senior CEAPAD ini dihadiri oleh sembilan negara anggota, yakni Indonesia, Jepang, Palestina, Thailand, Singapura, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Korea Selatan serta tiga organisasi internasional, yaitu Islamic Development Bank (IDB), UNRWA (badan PBB mengurusi pengungsi Palestina), dan Bank Dunia.

Dalam sambutan pembukaan pertemuan itu, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia A.M. Fachir menjelaskan sejak dibentuk pada 2013, CEAPAD telah menjadi instrumen untuk memberikan bantuan ekonomi dan pembangunan, termasuk bantuan teknis bagi Palestina.

“Kami berharap pertemuan kita hari ini akan mengevaluasi kebutuhan-kebutuhan rakyat Palestina dan menghasilkan kontribusi apa saja bisa diberikan masing-masing donor sesuai kelebihan dan kondisinya. Partisipasi aktif Anda hari ini melambangkan solidaritas tanpa batas dari masyarakat internasional terhadap Palestina,” kata Fachir.

Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir memberi sambutan pertemuan para pejabat senior "CEAPAD" yang berlangsung di Jakarta, Kamis (31/5). (Foto: VOA: Fathiyah)

Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir memberi sambutan pertemuan para pejabat senior “CEAPAD” yang berlangsung di Jakarta, Kamis (31/5). (Foto: VOA: Fathiyah)

Lebih lanjut Fachir mengungkapkan ketika tahun ini usia perjuangan rakyat Palestina sudah memasuki tahun ke-70, masyarakat internasional berduka menyaksikan penderitaan yang dialami bangsa Palestina dari hari ke hari. Dia menambahkan keputusan Amerika Serikat yang memindahkan kedutaan besarnya dari Ibu Kota tel Aviv, Israel, ke Yerusalem pada 14 Mei lalu telah mengancam proses perundingan dan perdamaian itu sendiri.

Apalagi, lanjut Fachir, bertepatan dengan peresmian Kedutaan Amerika di yerusalem tersebut, tentara Israel menembaki demonstran Palestina di sepanjang perbatasan Jalur Gaza, yang menewaskan lebih dari seratus orang dan melukai lebih dari 2.400 lainnya.

Fachir menegaskan Indonesia mengutuk pembantaian yang juga menewaskan perempuan dan anak-anak Palestina itu. Karena itulah, dia menyerukan upaya lebih keras lagi dari masyarakat internasional untuk menekan Israel sekaligus memberikan sokongan kepada Palestina.

Baca juga: Israel Larang Wisatawan Indonesia

Sekali lagi Fachir menyatakan Indonesia akan selau berada di garis terdepan dalam membela Palestina. Tidak hanya untuk kemerdekaan Palestina, tetapi juga proses menuju terwujudnya negara Palestina merdeka dan berdaulat, tandasnya.

Menurut Fachir, sejak 2008 Indonesia telah menggelontorkan lebih dari US$ 10 juta untuk pembangunan kapasitas sumber daya manusia Palestina dan dalam bentuk hibah. Dia mengatakan pemerintah Indonesia sudah menyelenggarakan pelatihan bagi lebih dari 1.800 orang Palestina di beragam bidang, termasuk diplomasi, pertanian, dan manajemen bencana.

Wakil Menteri Luar Negeri Palestina Taysir Jaradat berterima kasih atas segala dukungan Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Dia berharap masyarakat internasional terus memberikan dukungan terbaik untuk Palestina.

Jaradat menambahkan Palestina masih membutuhkan dukungan politik dan keuangan dari seluruh masyarakat internasional dalam menghadapi Israel.

Jaradat juga menegaskan masyarakat internasional menentang pemindahan Kedutaan Amerika ke Yerusalem. Dia menekankan keputusan Amerika itu bertentangan dengan hukum internasional.

“Karena Al-Quds (Yerusalem) termasuk wilayah Palestina dan Al-Quds adalah ibu kota Palestina. Dunia pada dasarnya menolak pembukaan Kedutaan Besar Amerika di Yerusalem. Kami menolak sekuat tenaga atas rencana pemindahan Kedutaan Amerika tersebut,” tegas Jaradat. [fw/em]



Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini