Hak Paten turut Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi

0
8



Jakarta: Hak paten yang merupakan hak eksklusif yang diberikan negara untuk investor dapat berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2015 pertumbuhan paten domestik di Indonesia mencapai 9.000 dari negara di ASEAN, angka tersebut lebih tinggi dari Thailand, Malaysia, dan Vietnam, kecuali Singapura yang mencapai 11 ribu.

Ekonom Indef yang juga Program Director dan Economist Universitas Indonesia Berly Martawardaya mengatakan posisi paten domestik di Indonesia terus meningkat jika dibandingkan 2014 yang hanya mencapai 700 paten.



Selain itu, selama kurun waktu 2000-2016 jumlah paten yang disetujui menunjukkan tren yang positif dari agregat paten. Hal tersebut, diakuinya, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Setiap kenaikan satu persen peningkatan paten dapat berkontribusi terhadap kenaikan pertumbuhan domestik bruto (PDB) 0,169 persen,” ujarnya dalam diskusi peran investasi sektor teknologi informasi dan komunikasi serta paten terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, di Gedung Annex, Jakarta, Selasa, 8 Mei 2018.

Ia menambahkan, dari peran paten tersebut tidak menunjang indeks inovasi global Indonesia yang menempati posisi peringkat 87 dari 127, di mana Indonesia berada di bawah negara Filipina, Thailand, Tiongkok, dan Malaysia. Namun indeks daya saing Indonesia berada di peringkat 36 dari 137 negara. Peringkat tersebut lebih tinggi dari Tiongkok dan Filipina, tapi lebih kecil dari Vietnam dan Malaysia.

“Sesunguhnya Indonesia berpotensi untuk berdaya saing dengan negara lain, namun belum cukup inovatif,” tambahnya.

Saat ini jumlah paten internasional di Indonesia atau nonresiden mencapai 8.000 pada 2014, angka tersebut lebih kecil dari paten lokal mencapai 700 pada tahun yang sama. Hal tersebut didukung maraknya produk komputer atau pun telepon genggam produk negara lain.

Namun ada sisi positif dari perusahaan asing yang berproduksi di Indonesia seperti transfer ilmu pengetahuan. “Ada ketularan pintar. Kerena perusahaan luar tidak hanya mengandeng peneliti luar tapi ada dalam negri, setelah bekeja sama bertahun-tahun, peneliti lokal bisa buka perusahan sendiri atau gabung dengan perusahaan lokal,” kata dia.

Direktur Paten DTLST dan Rahasia Dagang Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham  Dede Mia Yusanti menambahkan porsi pemohon hak paten di dalam negeri baru tercatat 1.400, jauh dibandingkan luar negeri yang mencapai 8.400 pada akhir 2017 dari 10 ribu pemohon paten.

“Dari 5.000-7.000 permohonan paten, dari luar ngeri mencapai 92 persen,” imbuhnya.

 

(AHL)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini