Baju Lebaran jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Mei 20…

0
3



Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Mei 2018 sebesar 0,21 persen. Salah satu kelompok yang mengalami inflasi cukup tinggi yakni kelompok sandang, yang dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Indonesia membeli baju jelang Lebaran.

“Paling dominan itu kenaikan baju muslim wanita. Ibu-ibu sudah menyiapkan baju Lebaran sejak dini,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Senin, 4 Juni 2018.



Dirinya merinci subkelompok sandang wanita mengalami inflasi paling besar mencapai 0,68 persen. Kemudian subkelompok sandang laki-laki inflasi 0,28 persen, subkelompok barang pribadi dan sandang lain sebesar 0,25 persen, dan subkelompok sandang anak-anak sebesar 0,21 persen.

Sementara itu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mencatat inflasi 0,31 persen dengan andil 0,05 persen. Beberapa komoditas yang menyebabkan kenaikan kelompok pengeluaran ini yaitu mi kemasan dan rokok kretek filter dengan andil masing-masing 0,01 persen.

Suhariyanto menambahkan, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan mencatat inflasi 0,18 persen dengan andil 0,03 persen. Dirinya mewaspadai adanya kenaikan tarif transportasi umum menjelang mudik Lebaran yang akan membuat inflasi Juni 2018 meningkat.

“Kita tahu setiap jelang puasa dan Lebaran, jadi Juni yang perlu diantisipasi adalah kenaikan tarif angkutan udara dan antarkota. Biasanya jadi penyebab utama selama Lebaran, mudah-mudahan kenaikannya tidak terlalu tinggi sehingga tidak memberatkan konsumen,” jelas dia.

BPS sebelumnya menyebut Mei 2018 sebesar 0,21 persen lebih rendah dibanding tahun lalu, meski sedikit naik dari bulan sebelumnya. Secara tahun kalender atau (ytd) inflasi tercatat sebesar 1,30 persen, sedangkan secara tahun ke tahun (yoy) inflasi tercatat 3,23 persen.

“Dibandingkan inflasi puasa Lebaran pada tahun lalu yang 0,39 persen, inflasi Mei 2018 jauh lebih rendah. Bahkan dibandingkan inflasi puasa Juni 2016 sebesar 0,66 persen, ini inflasi 2018 juga jauh lebih rendah,” ungkap Suhariyanto.

 

(AHL)





Sumber

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini