Aktivitas perdagangan di Palu sudah kembali normal

0
5


Palu (ANTARA) – Aktivitas perdagangan di Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah sudah normal kembali setelah selama dua hari Lebaran terlihat sepi.

Pantauan ANTARA di Pasar Masomba dan Manonda di Palu, Jumat, sebagian besar pedagang sudah kembali berjualan setelah mereka merayakan Idul Fitri 1440 Hijriah bersama keluarganya.

Pedagang daging sapi dan ayam sudah aktif lagi berjualan di pasar-pasar. Begitu pula halnya dengan pedagang ikan sudah banyak yang menjual dagangannya.

Saat Idul Fitri, hanya ada satu pedagang yang menjual ikan, sedangkan meja-meja dagangan tampak kosong selama dua hari Lebaran.

Namun, pada H+1 Lebaran 2019, Jumat, hampir semua pedagang sudah kembali berjualan meski pembeli masih sepi. Secara umum, warga  masih dalam suasana Idul Fitri.

Djafar, seorang pedagang ikan di Pasar Masomba Palu, mengaku selama hari raya tidak berjualan.

Ia memilih menghabiskan waktu dua hari Lebaran bersama dengan keluarganya.

“Saya baru hari ini berjualan ikan. Tapi pembeli masih sepi,” kata dia.

Seorang penjualan daging sapi di kawasan itu, Udin, mengaku sudah kembali lagi berjualan daging.

Harga daging sapi segar sehari menjelang Lebaran naik tajam dari Rp110.000 per kilogram menjadi Rp130.000, tulang sapi Rp110.000 dan kaki sapi Rp250.000 per satu paha.

Khusus untuk paha kaki sapi biasanya untuk bahan baku makanan khas Suku Kaili, yakni kaledo (kaki lembu donggala) atau makanan sejenis sop.

Makanan kaledo terkenal dan banyak diminati bukan hanya orang Palu, tetapi sampai mancanegara. Para wisatawan yang datang ke Kota Palu biasanya sebelum kembali ke negaranya, mencicipi makanan khas kaledo.

Harga ayam potong bertahan di kisaran Rp65.000 per ekor.

Sebagian besar ayam potong yang dijual di pasar di Kota Palu didatangkan para pedagang dari luar daerah, seperti Sulsel dan Sulbar, karena para peternak ayam lokal, rata-rata terdampak gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 28 September 2018.

Akibat bencana alam tersebut, para peternak ayam di daerah itu kehilangan usahanya. Hingga kini usaha mereka belum juga kembali normal karena membutuhkan modal besar.

 

Pewarta:
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2019



Source link

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini