Opini

Prospek dan Aspek Keamanan Biosimilar

      Ketika masa paten suatu produk biologi inovator telah berakhir, maka kesempatan pasar untuk produk biosimilar akan terbuka. Hal ini digadang akan memberikan alternatif produk biologi lebih murah untuk pasien. Dengan banyaknya produk biologi inovator yang masa patennya akan segera berakhir di tahun 2020, apakah yang akan terjadi pada pengembangan produk biosimilar?

  Produk biologi sendiri merupakan molekul kompleks yang dikembangkan dalam sel hidup dengan menggunakan metode bioteknologi. Produk Biosimilar oleh BPOM didefinisikan sebagai produk biologi dengan profil khasiat, keamanan, dan mutu yang similar/serupa dengan produk biologi yang telah disetujui (produk biologi inovator). Tren pengobatan diprediksi kedepannya akan memasuki era produk biologi.

Hal ini dapat dilihat berdasarkan data produk obat baru yang paling sukses dipasaran dimana lebih dari separuhnya merupakan produk hasil bioteknologi. Produk-produk biologi generasi pertama yang menjadi blockbuster contohnya seperti trastuzumab Herceptin® (onkologi/kanker) dan adalimumab Humira® (autoimun), memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pertumbuhan pasar produk biologi.

 Berdasarkan data, pasar global produk biologi adalah sebesar USD 251.5 juta pada tahun 2018 dan diperkirakan akan mencapai USD 625.6 juta pada tahun 2026 mendatang dengan CAGR sebesar 11,9%. Produk-produk biologi inovator yang telah kehilangan perlindungan patennya berpotensi untuk menjadi pasar biosimilar. Memasuki tahun 2020, industri farmasi produk inovator atau pemegang paten produk biologi diperkirakan beresiko kehilangan penjualan sebesar USD 17 miliar di seluruh dunia karena berakhirnya masa paten produknya. Dua laporan menyebutkan ada 18 produk biologi yang akan kehilangan perlindungan paten atau eksklusivitasnya, walaupun nantinya tidak semua obat tersebut akan menghadapi persaingan dengan produk biosimilar pada tahun 2020.

 Berdasarkan data survei hingga Desember 2015, dengan menggabungkan pendapatan penjualan di Uni Eropa dan Amerika Serikat, terdapat beberapa produk biologi mayor yang dijadwalkan kehilangan perlindungan paten antara 2015 dan 2020.

Salah satunya Adalimumab yang akan kehilangan perlindungan patennya pada tahun 2018. Obat ini menghasilkan lebih dari 10 miliar euro setiap tahunnya. Selain Adalimumab, beberapa produk biologi mayor yang akan kehilangan perlindungan patennya antara tahun 2015-2020 yakni Insulin Glargin (8,7 miliar euro), Etarnecept (6,9  miliar euro), Infliximab (5,3  miliar euro), Rituximab (4,2 miliar euro), Peg-filgrastim (3,9 miliar euro), Trastuzumab (3,2 miliar euro) dan Follitropin Alfa (0,3 miliar euro). Beberapa industri yang berperan sebagai pemain kunci dalam industri produk biosimilar antara lain Actavis, Cipla, Dr Reddy’s, Gedeon Richter, Hospira, Mylan, Sandoz, Stada Arzneimittel, Teva, Watson.

Salah satu produk biosimilar yang telah diproduksi di Indonesia yakni biosimilar trastuzumab bernama Hertraz® yang diluncurkan tahun 2019 merupakan hasil kerja sama PT Indofarma dengan industri farmasi global Mylan. Industri farmasi lain yang juga mengembangkan produk biosimilar di Indonesia ialah PT Kalbe Farma dan PT Dexa Medica . Sampai saat ini produk biosimilar yang telah beredar di Indonesia yakni filgrastim, antibodi monoklonal (trastuzumab), insulin manusia, dan epoetin alfa. Selain karena terbukanya kesempatan pasar biosimilar yang begitu besar, keuntungan lain yang didapat dari pengembangan produk biosimilar ialah adanya nilai tambah bagi Indonesia untuk dapat membuat bahan baku sendiri dan tidak tergantung pada bahan baku impor seperti pada produksi obat-obat kimia. Upaya ini diharapkan mampu memberikan akses pengobatan lebih mudah kepada masyarakat yang membutuhkan obat biologi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah mengeluarkan regulasi yang diperlukan termasuk terkait jaminan kualitas dan keamanan produk biosimilar.

Aspek keamanan produk biosimilar erat kaitannya dengan imunogenisitas. Lantas langkah apa yang mestinya dilakukan? Potensi dari produk biologi, termasuk produk biosimilar untuk menimbulkan respon imunogenik telah menjadi isu panas di kalangan dokter, beberapa di antaranya ragu untuk mengalihkan pasien menggunakan produk biosimilar.Struktur obat-obat biologi yang kompleks dan besar menyebabkan obat-obat jenis ini mudah sekali untuk dikenali sebagai senyawa asing dan memprovokasi sistem kekebalan tubuh (imunitas) manusia. Klasifikasi efek klinis yang ditimbulkan oleh imunogenisitas antara lain (1) Beberapa produk dapat memberikan efek imunogenisitas yang parah pada beberapa individu, contoh pada epoetin alfa yang menghasilkan antibodi penetral epoetin alfa (kasus jarang terjadi), (2) Produk biosimilar memiliki efek imunogenisitas yang sama dengan produk inovatornya (sehingga dapat diantisipasi terlebih dahulu), (3) Efek imonogenisitas yang belum teridentifikasi.

Hal ini menyebabkan timbulnya pertanyaan apakah permasalahan terkait imunogenisitas dapat menjadi alasan valid untuk memberikan restriksi akses terhadap produk biosimilar? Regulasi terkait biosimilar sejatinya telah menetapkan aturan bahwa produk biosimilar tidak boleh memiliki perbedaan klinis signifikan dengan produk innovatornya termasuk dalam hal imunogenisitas. Adanya respon khusus dari tiap individu harus terus dievaluasi karena uji klinis yang dilakukan terhadap suatu obat adalah dalam skala populasi bukan individu. Dibandingkan melakukan restriksi akses pasien yang mungkin akan mendapat keuntungan dari penggunaan biosimilar, akan lebih baik apabila penelitian diarahkan untuk identifikasi dini efek samping yang mungkin terjadi, penguatan uji klinis dan meningkatkan evaluasi terhadap kasus dugaan efek samping atau imunogenisitas. Data-data ini nantinya dapat digunakan untuk mempertimbangkan resiko dan keuntungan dari penggunaan produk biosimilar untuk para pasien.

 

Penulis: Khoirunnisa Muslimawati, Ebrahim Saad Ebrahim Sadaqa, Yennie Agnes Pranata, dan Qurrat Ul Ain

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 + 14 =

Most Popular

To Top